Latest Updates

GUS MUS DAN CAK NUN


Sedikit cerita, Gus Mus dan Cak Nun adalah dua kiyai sepuh yang dikeramatkan di kalangan nahdliyyin, setara dengan almarhum Gus Dur. Gus Mus semasa muda adalah santri paling cerdas di pesantrennya. Beliau biasa tidur sewaktu rapat para santri, dan baru dibangunkan kalau ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Seperti lazimnya santri Ponpes Lirboyo, Gus Mus muda senang mempelajari ilmu kanuragan, sehingga rambutnya saja yang sanggup memotong adalah bapaknya sendiri (dan tentu sambil dimarah-marahi).

Cak Nun semasa muda karakternya seperti tokoh wayang Bima; terlalu jujur pada keadaan. Sewaktu masih SD, beliau menendang kaki gurunya sendiri, karena tidak terima temannya yang dimarahi melampaui batas. Sewaktu jadi santri, beliau menghajar seniornya yang kurang ajar, sehingga langsung dikeluarkan.

Baik Gus Mus atau Cak Nun, keduanya sekarang adalah juara di bidangnya masing-masing. Gus Mus kini adalah Ra'is 'Aam PBNU yang artinya pemimpin ribuan ulama dan puluhan juta nahdliyyin. Meski demikian, beliau lebih suka dipanggil "gus" (orang yang belum pantas disebut kiyai) dan digelari budayawan.

Sedangkan untuk Cak Nun, meski beliau tidak punya gelar akademik apapun, beliau adalah rujukan semua profesor dan doktor di Tanah Air. Emha Ainun Nadjib adalah "cendekiawan paling cendekiawan" di Indonesia. Bahkan, saat genting Reformasi 1998, salah satu orang yang dimintai nasehat oleh Pak Harto dan para panglima tentara adalah Cak Nun, karena selain beliau sangat cerdas, beliau adalah manusia tanpa ambisi. 

Cak Nun berbeda dengan para aktivis Reformasi 1998 lainnya, yang kebanyakan sebenarnya hanya dengki. Bisa kita lihat Gus Dur yang tidak pernah korupsi, justru ramai-ramai dikeroyok ratusan pejabat "reformis". Bisa kita lihat juga arah Indonesia sekarang ini yang justru lebih korup daripada Orde Baru.

Kalau Walisongo ada di zaman sekarang, pasti beliau berdua dimasukkan dewan wali nusantara tersebut. 

PENULIS : Doni Febriando



Menangis

sumber gambar
Pernahkan anda menangis? Pasti. Ada artikel dari Cak Nun tentang menangis. Nih artikelnya.
Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat “iyyakana’budu….”. Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan “wa iyyaka nasta’in….”
Banyak di antara jamaah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.
“Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar”, berkata Abah Latif seusai wirid bersama, “Mengucapkan kata-kata itu dalam Al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. Harus di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakekat itu”.
“Astaghfimllah, astaghfirullah”, geremang turut menangis mulut parasantri.
“Jadi, anak-anakku”, beliau melanjutkan, “apa akar dan pijakan kita dalam rnengucapkan kepada Allah iyyaka na’budu?”
“Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Allah itu sendiri, Abah?” bertanya seorang santri.
“Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan”.
“Belum jelas benar bagiku, Abah”.
“Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan”. “Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri terhenti ucapannya. Dan Abah Latif meneruskan, “Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka na’budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepada-Mu kami menyembah, na’budu”.
“Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai umatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na’budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari ‘abdullah, yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyakana’budu dalam shalat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?”
“Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri.
“Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta’in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakekatnya melawan Allah”.
“Astaghfirullah, astaghfirullah”, gemeremang para santri.
“Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya!”

Kafir Politis

sumber gambar
Jika kita telusuri secara mendalam. Cak Nun adalah orang yang mampu menjelaskan bagaimana seharusnya hidup itu dengan detail. Beliau bisa membawa orang kecil menjadi
bergairah hidupnya, mampu membawa manusia yang kerdil hatinya menjadi kuat, dan mampu juga membawa orang-orang yang berpolitis kebakaran jenggot. Di bawah ini ada tulisan Cak Nun tentang Kafir Politis. 
Kalau menjelaskan pada jemaah-jemaah kecil kaum muslimin yang awam tentang kufur ataukafir, biasanya saya memakai entry point soal bersih atau kebersihan.

Misalnya begini: sepanjang seseorang masih mandi dan makan tiap hari, maka ia tak bisa disebut sebagai kafir dalam arti total. Orang mandi, ightisal alias membersihkan diri sendiri, berarti melaksanakan amanat atau perintah Allah untuk menjaga kebersihan badan. Bahwa di luar itu otaknya, perilakunya, perusahaan atau jabatannya, belum di-ghusl atau belum dibersihkan — di situlah barangkali letak fungsi kufurnya. Tetapi tindakan memandikan badan sendiri itu adalah pekerjaan kemusliman.
Demikian juga sepanjang orang masih makan dan minum, maka ia masih memiliki eksistensi kemusliman, karena makan dan minum adalah memenuhi kehendak Tuhan agar hamba-hamba-Nya bersetia kepada kehidupan, antara lain dengan menjaga kesehatan.
Jadi menurut cara berpikir ini, hampir tak ada orang yang seratus persen dikategorikan sebagai orang kafir. Apalagi orang yang meskipun tidak bersyahadat, tidak melakukan shalat, puasa, zakat, dan haji; biasanya masih berbuat baik kepada anak istrinya, mencintai mereka, mencarikan nafkah, dan sebagainya.
Maka tidak bisa saya bayangkan bahwa ada orang yang sehari-harinya masih mandi, makan, menafkahi keluarganya, bertetangga baik-baik dan santun kepada orang banyak — bisa pada suatu sore kita tuding sebagai kafir, lantas kita halalkan darahnya, atau minimal kitapersonanongrata-kan dan kita kucilkan.
Dalam konteks keilahian dan keagamaan saja pun tak bisa saya bayangkan terjadi pengkafiran semacam itu. Apalagi dalam konteks yang lebih duniawi dan pada tataran yang lebih lemah dan relatif kriteria nilai-nilainya — umpamanya dunia politik.
Kalau mulut kekuasaan politik di suatu Negara menuding seseorang “Kamu tidak bersih lingkungan”, di kepala saya muncul berjilid-jilid buku yang menguraikan beribu-ribu pertanyaan dan kegelisahan. Dari pertanyaan dan kegelisahan yang berkonteks politik praktis, keanehan budaya kekuasaan, sampai yang berkonteks filosofis, etimologis, atau bahkan ideologis dan teologis.
Di dalam perspektif nilai akidah dan hukum agama saja pun term “kafir”, “musyrik”, “munafik”, “muslim” atau “mukmin”, tetap terbatasnya maknanya oleh konteks-konteks dalam ruang dan waktu, di mana suatu peristiwa dan perilaku berlangsung. Kalau ada pedagang agama Isalam menipu pembeli beragama Budha, tidak bisa kita katakana “orang muslim menipu orang kafir”. Perbuatan menipu itu adalah kekufuran, sehingga tidak bisa membuat kita mengatakan bahwa dalam kasus penipuan itu si penipu adalah muslim. Kalau seseorang menipu, maka dalam dunia ruang dan waktu penipuan itu si penipu adalah kafir.
Maka sesungguhnya kalau kita berpikir jujur, di dalam kehidupan sosial masyarakat kita, kata “kafir”, “muslim”, “munafik”, “musyrik”, dan seterusnya itu selama berabad-abad mengalami pengorbanan-pengorbanan yang sungguh-sungguh tidak kecil dan tidak sepele. Mengalami distorsi, pembiasan, pembelokan, bahkan pembalikan arti. Dan kalau pembangkangan makna sebiji kata itu berada di genggaman tangan seseorang atau sekelompok manusia yang memiliki kekuasaan tak terbatas — memiliki ribuan senapan dan prajurit — maka peristiwa-peristiwa besar sejarah yang tragis berlangsung berdasarkan sulutan yang sebenarnya amat sepele.
Ratusan ribu orang bisa tertumpas nyawanya berkat satu kata yang dipelesetkan maknanya. Puluhan ribu orang terpuruk nasibnya ke dalam kegelapan ekonomi dan politik, hanya oleh pembiasan kata “pembangunan” misalnya. Jutaan lainnya bisa kehilangan tanah, kehilangan sawah, kehilangan nafkah, kehilangan kios jualan, kehlangan pekerjaan, kehilangan lingkungan pergaulan, atau bahkan meringkuk di dalam sel-sel sempit berdinding batu tebal dingin — hanya oleh pembangkangan sekelompok manusia terhadap perjanjian murni arti sebuah kata.
Jika pemelesetan makna kata itu sekadar merupakan kasus kebodohan, maka kita hanya bersedih dan menangis. Tetapi kalau pemelesetan itu justru disadari — bahkan didayagunakan untuk rekayasa-rekayasa kekuasaan — maka mungkin seseorang akan hanya menghadapi dua kemungkinan. Pertama, diam, menyerah, dan hancur. Kedua,  berang, marah, melawan, dan mati.
Jadi, secara keseluruhan kita sedang berhadapan dengan tiga masalah besar. Pertama, siapakah atau pihak manakah di dalam sejarah, yang disepakati sebagai berwenang untuk menentukan makna sebuah kata? Kedua, dalam sebuah sistem politik yang berlaku, adalah institusi hukum atau lembaga kebudayaan yang memiliki otoritas dan kewibawaan untuk mengontrol subyektivisme kekuasaan yang seringkali memaknakan kata “bersih”, “PKI”,“balela”, “subversif”, dan seterusnya seenaknya sendiri dari sudut kepentingan kelompoknya — yang apalagi dibungkus di dalam jargon kepentingan umum? Ketiga, berapa dekade sejarah diperlukan untuk menyembuhkan situasi di mana — setidaknya sebagian — kekuasaan yang melakukan pembangkangan kata itu justru secara mantab dan kusyuk merasa bahwa yang dilakukannya itulah paling benar?
Ataukah pertanyaan-pertanyaan semacam yang saya ajukan ini justru dianggap sebagai “cacat politik” atau bahkan “kafir politis”?

Saya vs Anjing

sumber gambar
Ya. Jika anda membaca tulisan-tulisan Cak Nun. Anda akan dibuat terperangah. Cara berpikir Cak Nun lebih ke depan dibanding saya, hehe. Mungkin lebih banyak ke depannya. Hidupnya santai dan selalu ingin dekat dengan masyarakat. Tulisal-tulisan beliau sungguhlah pantas untuk dibaca. Bagi siapa saja yang ingin melihat dunia dengan cara yang luas. Berikut tulisan Cak Nun.

Pagi kemarin saya bermain bola dengan seekor anjing besar berwarna hitam putih, di halaman belakang rumah seorang teman, di pelosok, sekitar 40 km dari kota Melbourne, Australia. Hampir tiga jam, melebihi running time pertandingan Piala Dunia. Satu lawan satu, berbeda dengan 11 lawan 11. Tentu saja saya ngosngosan, tetapi gejala flu meler saya menjadi sembuh – maklumlah dibanding Sydney kemarin, cuaca dan suhu udara di Melbourne relatif lebih dingin. Tidak sedingin Canberra – kota yang berpretasi membuat saya tidak mandi 4 hari – tetapi Melbourne tidak stabil, sehingga terkadang lebih menyegat dibanding ibukota Australia.

Bagaimana saya bisa tersandera di sini, sendirian di rumah, bermain sama anjing yang lincah bukan main – mengingatkan ketika saya masih muda bermain bola dengan tujuan adu gares atau slongketankaki. Pengalaman kesunyian saya kali ini sungguh berbeda dengan tradisi sunyi hidup saya selama ini.
Oh, anjing! I love you anjing! Tentu saja saya bermain bola dengan pakai sepatu di kaki, berusaha tidak menyentuhkan kulit saya dengan bola yang digigit dikulum anjing terus menerus.
Saya tidak akan menyebut anjing makhluk yang rendah. Ia adalah makhluk Tuhan yang sekedar berbeda dengan saya. Sebagaimana kalau bikin kopi jangan dicampur dengan garam atau apalagi sambal. Bukan karena sambal lebih rendah derajatnya dari kopi, tetapi estetika tidak menghendaki mereka berdua diaduk jadi satu. Sayapun tidak menyambal dannguleg diri saya dengan air liur anjing. Saya bermain, bekerjasama, bermesraan dari suatu jarak yang menjaga kehalalan.
Oh, anjing! Pendawa mengalami ribuan nasib dengan seratus saudaranya Kurawa: saling cemburu, mempertarungkan rasa hak milik, kalah judi, menjadi gelandangan di hutan, kemudian memasuki sampyuh Bharata Yudha – perdebatan moral dan kebimbangan teologis yang panjang, memasuki pemikiran-pemikiran sangat mendalam terutama dalam dialog Kresna dan Arjuna. Di puncak riwayatnya, mereka berlima menang. Tetapi ketikalorolopo menuju sorga, satu persatu dari lima bersaudara Pandawa ini tak kuat tak tahan uji. Sampai akhirnya hanya Puntadewa alias Prabu Darmakusumah yang menapaki tanah di depan pintu nirwana. Namun ia yang berdarah putih ini pun gugur, dan tinggal anjingnya… memasuki sorga.
Tak berani aku meremehkan anjing. Puncak keberanianku hanyalah meremehkan diriku sendiri. Bukankah orang di jalanan yang menjumpai seekor anjing kehausan dan memberinya minum – dijauhkan ia dari api neraka? Bukankah tidak menolong tidak memberi makan kepada anak anjing yang kelaparan saja kita diancam dijilat api neraka?
Siapa tahu aku ini anjing. Jadi kalau ada orang memakiku “Anjing!” aku tidak boleh marah. Atau mungkin malah berterima kasih karena dengan disebut anjing sesungguhnya aku dijunjung kehormatanku – padahal aslinya aku tidak akan pernah mampu sesetia dan sejujur anjing.
Saya bermain oper-operan bola dengan Penny si betina yang besar, sambil Wolly yang cowok menyaksikan di sisi pagar. Tak pernah saya punya pengalaman apapun dengan anjing. Tak punya habitat pergaulan dengan anjing. Tapi Penny sepertinya jatuh cinta kepada saya. Ia terus menerus mendatangi saya dengan menyodorkan bola yang ia kulum-kulum dan ia sodorkan ke tangan saya.
Saya coba berbicara kepadanya dan memintanya untuk meletakkan bola di depan kaki saya. Ternyata ia mau. Maka kami bermain-main – bermesraan sesama makhluk Allah. Aku yang menendang bola, ia menjadi kiper. Babak pertama saya kalah, capek duluan dan terdudukmenggeh-menggeh. Ronde berikutnya saya balas Penny yang ngos-ngosan, bersimpuh sambil menjulur-julurkan lidahnya.
Jalaludin Rumi memberi makan kepada tiga ekor anjing yang kelaparan. Orang yang lewat bertanya kepadanya: “Siapa anjing yang kau beri makan itu?” Rumi menjawab: “Itu adalah aku….”

Mbok Nggak Usah Ada Neraka

sumber gambar
Setiap calon santri di padepokan Sang Sunan, di test dulu bagaimana ia membaca kalimat syahadat. Dan Saridin memiliki lafal dan caranya sendiri dalam bersyahadat. Suatu cara yang Gus Dur saja pasti tidak berani melakukannya, minimal karena badan Gus Dur terlalu subur — sementara Saridin adalah lelaki yang atletis dan seorang pendekar silat yang mumpuni.

Tapi sebelum hal itu diceritakan, karena Saridin khawatir Anda kaget lantas darah tinggi Anda kambuh, maka harus diterangkan dulu beberapa hal mendasar yang menyangkut hubungan antara Tuhan dengan humor.
Sejak mulai akil balig, Saridin secara naluriah maupun perlahan-lahan secara rasional memutuskan untuk melihat dan memperlakukan kehidupan ini sebagai sesuatu yang sangat bersungguh-sungguh — namun ia menjalaninya dengan urat saraf yang santai dan dengan kesiapan humor yang setinggi-tingginya.
Soalnya, diam-diam, jauh di dalam lubuk hatinya, Saridin yakin bahwa Tuhan sendiri sesungguhnya adalah Maha Dzat yang penuh humor….

Memang belum tentu benar, belum tentu baik dan arif, untuk menyebut bahwa Tuhan itu Maha (Peng- atau Pe-) Humor. Di antara 99 asma dan watakNya, tidak terdapat nama Maha Humor. Tapi kalau misalnya di satu pihak Tuhan itu Maha Penyayang dan di lain pihak Ia Maha Penyiksa, atau di satu sisi Ia Maha Pengasih dan di sisi lain Ia Maha Penghukum, atau di satu dimensi Ia Maha Penabur Rejeki tapi sekaligus pada dimensi lain Ia Maha Penahan Rejeki — terpaksa kadang-kadang kita menganggap itu suatu jenis humor. Paling tidak supaya kepala kita tidak pusing.

Ada sih penjelasan kontekstualnya. Tuhan mengasihi atau menyiksa hamba-hambaNya menurut konteks dan posisi nilai yang memang relevan untuk itu. Tuhan mungkin mengasihi siapa saja meskipun mereka mbalelo kepadaNya: Tuhan tetap memelihara napas para maling, Tuhan tidak menyembunyikan matahari dari para perampok, Tuhan tidak menghapus ilmu dari otak para koruptor.
Tapi tidak mungkin Tuhan menyiksa orang yang patuh kepadaNya. Tuhan tidak mungkin menghukum orang yang tak punya kesalahan kepadaNya. Kalau Tuhan menahan rejeki orang yang taat kepadaNya, maka penahanan rejeki itu mungkin merupakan suatu jenis rejeki tertentu yang merupakan metoda agar orang tersebut menghayatinya dan memperoleh nilai yang lebih tinggi. Atau kalau seseorang yang baik kepada Tuhan tapi lantas diberi kemiskinan atau penderitaan, tentu yang terjadi adalah satu di antara tiga kemungkinan.

Pertama, itu teguran. Alhamdulillah dong kalau Tuhan berkenan mengkritik kita. Itu artinya kita punya kans untuk menjadi lebih baik. Kedua, itu ujian. Juga alhamdulillah, karena hanya orang yang disediakan kenaikan pangkat saja yang boleh ikut ujian. Dan ketiga, itu hukuman. Ini lebih alhamdulillah lagi, karena manusia selalu membutuhkan pembersihan diri, memerlukan proses pensucian dan kelahiran kembali.
Jadi menurut Saridin jelas, bahwa bagi mata pandang manusia, ide-ide penciptaan yang Ia paparkan pada alam semesta dan kehidupan, banyak sekali mengandung hal-hal yang kita rasakan sebagai “humor”.
Bukan hanya ketika kita melihat perilaku monyet, umpamanya — yang membuat Saridin berpikir: “Ah, ini yang bikin tentu Dzat yang maha pencipta humor, atau sekurang-kurangnya pencipta monyet adalah Entertainer Agung bagi jiwa dahaga manusia….”

Soalnya kelakuan monyet ‘kan mirip-mirip Anda….
Juga Anda mengalami sendiri betapa banyaknya hal-hal yang lucu di muka bumi ini, bahkan juga mungkin di luar bumi. Saridin sendiri amat sering tertawa riang atau tertawa kecut kalau melihat atau mengalami kehendak-kehendak Tuhan tertentu. Umpamanya tatkala Adam tinggal di sorga, Tuhan sengaja bikin pohon Khuldi, tapi dilarangnya Adam menyentuh. Tapi pada saat yang sama, Ia ciptakan Iblis untuk menggoda agar Adam melanggar larangan itu — dan akhirnya terjadi benar.
Sehingga beliau beserta istri terlempar ke muka bumi, dan kita semua terpaksa menjumpai diri kita juga tidak lagi di sorga, melainkan di bumi.

Itupun bumi yang sudah dikapling-kapling oleh konsep adanya negara. Oleh adanya organisasi pemerintahan yang kerjanya memerintah dan melarang seperti Tuhan. Kalau Tuhan sih memang berhak seratus persen memerintah dan melarang karena memang Ia yang menciptakan kita dan semua alam ini, serta yang menyediakan hamparan rejeki dan menjamin hidup manusia.
Tapi pemerintah ‘kan nyuruh kita cari makan sendiri-sendiri. Kalau kita kelaparan atau dikubur hutang, kita tidak bisa mengeluh kepada pemerintah.

Hubungan kita dengan pemerintah hanya bahwa kita sebuah berada di bawah kekuasaannya tanpa ada jaminan bahwa kalau kita mati kelaparan lantas mereka akan menangisi kita dan menyesali kematian itu. Semakin banyak di antara kita yang mati, secara tidak langsung program KB akan semakin sukses.
Soal ini memang tergolong paling lucu di dunia. Kalau di negara sosialis dulu, rakyat dijamin kesejahteraannya meskipun minimal, namun sama rata sama rasa — dengan catatan tidak boleh mbacot, tidak boleh membantah, alias tidak ada demokrasi. Kalau di negeri kapitalis, setiap orang memiliki hak bicara, hak ngumpul dan berserikat — tapi dengan syarat harus cari makan sendiri-sendiri, harus mandiri dan berani bersaing, berani jadi gelandangan kalau kalah.

Lha Anda adalah rakyat yang hidup di negeri yang mengharmonisasikan dua keistimewaan dari negeri sosialis dan negeri kapitalis. Anda tidak usah banyak bicara, tak usah membantah, tak perlu protes-protes, karena toh makan dan kesejahteraan hidup Anda harus Anda jamin sendiri….
Departemen Sosial, Polsek, Babinsa, Koramil, Majelis Ulama, ICMI, PCPP, YKPK, PNI-Baru maupun Neo-Masyumi, tidak menjamin bahwa Anda beserta keluarga akan tidak sampai kelaparan.
Bahkan pada saat-saat kita tidak paham pada takdirnya yang menimpa kita, dan itu mungkin menyedihkan, demi supaya kita tetap survive secara psikologis — seringkali kita anggap saja itu semua adalah Humor dari yang Maha Kuasa.

Misalnya saja soal Pak Adam di sorga itu. Kalau kita boleh bermanja kepada Tuhan, mbok ya biarkan saja beliau menghuni sorga. Mbok ya Tuhan ndak usah menciptakan Setan, Iblis dan sebangsanya itu. Mbok ya langsung saja manusia yang merupakan hasil ciptaan terbaik ini ditakdirkan saja untuk menghuni sorga, sehingga Tuhan tak usah juga bikin neraka.
Soalnya gara-gara Iblis menang dan sukses dalam menggoda Adam, lantas di dalam perkembangan dunia maupun pembangunan kebudayaan nasional — Setan dan Iblis malah mendapatkan peluang yang besar untuk menjadi idola.

Dalam praktek-praktek kehidpan politik, dalam mekanisme perekonomian dan dunia bisnis, dalam soal-soal pembebasan tanah, soal kebebasan asasi manusia dan lain sebagainya — Setan banyak menjadi wacana utama. Para penguasa tertentu dan pemegang modal besar tertentu, banyak memperlakukan Iblis sebagai mitra-kerja, dengan alasan: “Alah, wong Pak Adam saja juga kalah waktu digoda oleh blis kok….”
Itulah sebabnya Saridin, ketika diperintah oleh Sunan Kudus untuk bersyahadat, memutuskan untuk menempuh suatu cara yang membuktikan bahwa ia bukan saja tidak takut melawan Iblis dan Setan — Saridin bahkan membuktikan bahwa ia tidak takut mati. Saridin membuktikan bahwa Saridin lebih besar dibanding kematian….
Demokrasi Tolol versi Saridin (Penerbit Zaituna, 1997)

Jadwal Maiyah Cak Nun Januari 2014

Jadwal Maiyah Cak Nun Januari 2014

Agenda Maiyahan bulan Januari 2014:

• KENDURI CINTA | 10 Januari 2014, 20:00 WIB | Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

• Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng | Pengajian Maulid Nabi 1435H | 19.00 - Selesai
Alun alun Kab. Situbondo.

• Silaturahmi dan Rekonsiliasi Anak Bangsa bersama Emha Ainun Nadjib | 15 Januari 2014, 09.00 WIB - 12.00 WIB | Hotel Borobudur, Jakarta.

• BANGBANG WETAN | 15 Januari 2014, 20:00 WIB | Balai Pemuda Surabaya, Jl. Pemuda Surabaya Jatim.

• PADHANGMBULAN | 16 Januari 2014, 19:00 WIB | Menturo Sumobito Jombang.

• MOCOPAT SYAFAAT | 17 Januari 2014, 20:00 WIB | Kompleks TKIT Alhamdulillah, Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta.

• GAMBANG SYAFAAT | 25 Januari 2014, 20:00 WIB | Kompleks Masjid Baiturrahman Simpanglima Semarang.

Terima kasih,
Progress.

Jadwal Maiyahan Bulan Nopember 2013:

Jadwal Maiyahan Bulan Nopember 2013:

  • Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng | Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1435H | 4 Nopember 2013, 19:00 WIB | Lapangan Perumahan Wisma Indah 2, Gunung Anyar, Tambak, Surabaya.
  • Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng | Dies Natalis ke 49 dan Gebyar Festival Tegal Boto | 5 Nopember 2013, 20:00 WIB | Universitas Jember.
  • KENDURI CINTA | "Syarat Rukun Bencana" | 15 Nopember 2013, 20:00 WIB | Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
  • MOCOPAT SYAFAAT | 17 Nopember 2013, 20:00 WIB | Kompleks TKIT Alhamdulillah, Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta.

Terima kasih,
Progress.


Jadwal Acara Maiyahan Cak Nun bulan Oktober 2013:

Jadwal Acara Maiyahan Cak Nun bulan Oktober 2013:

• JAZZ 7 LANGIT | 3 Oktober 2013, 19:30 WIB | KiaiKanjeng, Beben Jazz, Inna Kamarie | Taman Budaya Yogyakarta.

• Ngaji bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng | 4 Oktober 2013, 19:00 WIB | Lapangan Candibinangun | Desa Candibinangun, Kec Pakem, Kab Sleman.

• Pengajian Budaya bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng | 5 Oktober 2013, 19:00 WIB | Barak Pengungsian Girikerto, Kec Turi, Kab Sleman.

• KENDURI CINTA | 11 Oktober 2013, 20:00 WIB | Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

• JUGURAN SYAFAAT | 12 Oktober 2013, 19:00 WIB | Pendopo Wabup Banyumas.

• MOCOPAT SYAFAAT | 17 Oktober 2013, 20:00 WIB | Kompleks TKIT Alhamdulillah, Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta.

• PADHANGMBULAN | 19 Oktober 2013, 19:00 WIB | 20 Tahun PadhangmBulan | Menturo Sumobito Jombang.


Jadwal Maiyah Cak Nun Bulan September 2013:

Jadwal Maiyah Cak Nun Bulan September 2013:

Peresmian Kawasan Kantor Kab. Boyolali
Waktu : 6 September 2013 19.00 WIB
Tempat : Halaman Pendopo Kab. Boyolali, Jateng
Pengisi : Cak Nun, KiaiKanjeng, Umum

Kenduri Cinta
Waktu : 13 September 2013 19.00 WIB
Tempat : TIM Jakarta
Pengisi : Nursamad Kamba, Beben Jazz, dll

Mocopat Syafaat
Waktu : 17 September 2013 19.00 WIB
Tempat : Kompleks TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Jogja
Pengisi : Cak Nun, KiaiKanjeng, Toto Rahardjo, Mustofa W. Hasyim, KMS, Umum

Padhangmbulan
Waktu : 20 September 2013 19.00 WIB
Tempat : Menturo Sumobito, Jombang, Jatim
Pengisi : Cak Fuad, Umum

Bangbang Wetan
Waktu : 21 September 2013 19.00 WIB
Tempat : Balai Pemuda Surabaya, Jl. Gubernur Suryo Surabaya Jatim

Gambang Syafaat
Waktu : 25 September 2013 19.00 WIB
Tempat : Kompleks Masjid Baiturrahman Simpanglima, Semarang, Jateng
Pengisi : Saratri Wilonoyudho, Pak Ilyas, Anis Sholeh Ba'asyin, Umum

Jadwal Maiyah Juli 2013

Jadwal Maiyah Juli 2013
Silaturrahmi Akbar menyambut Ramadhan
1 Juli 2013, Pkl. 19.30 WIB
Di Kantor Kec. Mergangsan,
Jl. Sisingamangaraja, Yogyakarta
Bersama Cak Nun, KiaiKanjeng, & Umum

Maiyah
4 Juli 2013, Pkl. 19.30 WIB
Dalam Rangka Syukuran Ulangtahun Masjid Sirojuddin
Di Mancasan, Condong Catur, Jogja
Bersama Cak Nun, KiaiKanjeng, & Umum

Ngaji Bareng CNKK
6 Juli 2013, Pkl. 19.30 WIB
Di Kutorejo, Pandaan, Pasuruan, Jatim
Bersama Cak Nun, KiaiKanjeng, & Umum

Maiyahan Purawisata
bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng
7 Juli 2013, Pkl. 19:00 WIB
Di Purawisata, Jl. Katamso, Yogyakarta

Kenduri Cinta
12 Juli 2013, Pkl. 20:00 WIB
Di Taman Ismail Marzuki, Jakarta


sumber