Latest Updates

Lagi, Kiai Semar Menghilang

Oleh Helmi Mustofa 

Dikisahkan, warga masyarakat Karang Kedempel resah dan sedih karena menghilangnya Kiai Semar. Padahal perannya sangat dibutuhkan saat itu. Masalah-masalah yang kian runyam menunggu turun tangannya. Kiai Semar kemanakah engkau pergi? Ke manakah engkau bersembunyi? Lurah dan seluruh perangkatnya tak lagi sanggup menjalankan fungsinya sebagai petugas penyejahtera rakyat. Malahan sebaliknya, dengan pelbagai cara dan manipulasi.

Para Punakawan lainnya — Gareng, Petruk, dan Gareng, jadi ramai berdebat, merefleksi, dan mencari. Di antara menghilangnya Semar dan tertindasnya warga Karang Kedempel, berlangsung berlapis-lapis pemikiran dan pergulatan. Di tengah ketertindasan, represi politik, pembungkaman suara, dan penjajahan oleh asing, bergema pertanyaan mengapa Semar pergi sementara rakyat Karang Kedempel tak berdaya. Hakikat politik, kedaulatan rakyat, sejatinya kekuasaan, semuanya dipertanyakan kembali.

Sampailah mereka pada suatu kesimpulan: perlunya Carangan: “Carangan ialah mengubah pakem. Menggesernya, merombaknya, atau bahkan menggantikannya sama sekali. Suatu sistem pakem yang menyejahterakan sebagian orang dengan cara menyengsarakan sebaguian besar lainnya, tak bisa diteruskan. Kaum Punakawan, sebagai agen dari Budaya Carangan — yang mencoba menyelusupkan paham-paham baru yang membebaskan — dalam kisah keniscayaan tragis Mahabharata, menunjukkan bahwa masyarakat Karang Kedempel sebenarnya melontarkan kehendak pembebasan secara autentik.” (203).

***
Zaman terus berjalan, melangkah, dan berubah. Novel-esai berjudul “Arus Bawah” ini dulu, 20 tahun silam, telah terbit menjumpai pembaca. Menggedor kesadaran orang-orang, yang hidup tapi tak selalu berdaya dalam kepungan kekuasaan Orde Baru. Menyusupkan dan menyebarkan virus budaya carangan, di atas berlangsungnya mainstream kekuasaan dan politik kala itu, yang baku, pakem, dan hendak dilanggengkan.

 
Arus Bawah
Judul Buku : Arus Bawah
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2015
Tebal : viii+238 halaman

Kini, di awal tahun 2015, novel-esai yang mengajak kita lebih dekat dengan kehidupan negeri karang Kedempel ini hadir kembali. Dan sejatinya, juga mewartakan hal yang sama; Kiai Semar telah menghilang. Ya, Kiai Semar pergi entah ke mana. Padahal penduduk Karang Kedempel kontemporer ini sesungguhnya sedang membutuhkan kehadirannya. 

Mungkin lebih dari yang dulu. Karang Kedempel yang sekarang ini dikuasai oleh politik tipu daya pencitraan, pemerintahan yang terbelah dan penuh sandiwara, kamuflase demokrasi, maraknya aliran-aliran penyempitan berpikir, riuh rendahnya ocehan dan hujatan di media sosial, aneka tingkah polah nyelfie, dan lebay-nya gaya hidup, amat sangat memerlukan kembalinya Kiai Semar. Sekurang-kurangnya para Punakawan lainnya, bisa segera menggulirkan gerakan carangan baru

“Islamic Valentine Day”

cak nun
JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari “agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan “islamisasi”, “dakwah Islam”, “syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan “Negara Islam Indonesia” — yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.
Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir, ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam. Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan “Gosip Islami”, “Lokalisasi Pelacuran Islami”, “Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita Muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai Hari Valentine Islami….

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal….

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: “…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun…. “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: “Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: “Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram…?”

Manusia, Korupsi, dan Luapan Air Bah

sumber gambar
Pohon yang diletakan di dalam ruangan, secara alamiah akan bergerak menuju sumber cahaya. Pohon tidak punya alternatif sikap, kecuali patuh kepada sunatulloh.  Celah dan lubang sekecil apapun akan dipilih sebagai arah tumbuh oleh pohon yang ditaruh di sebuah ruang gelap, jika celah dan lubang itu adalah sumber cahaya. Pohon akan bergerak tumbuh berdasarkan ‘sangkan paran’ nilai dan hakekat alamiahnya.  Pohon sangat setia dengan ilmu dan pengetahuan dari Tuhan tentang hakekat kesehatan dan keselamatan hidup.

Sekian abad yang lalu bangsa kita hidup di dalam sebuah habitat sosial yang terkontruksi berdasarkan hakekat nilai yang alamiah. Kita tentu pernah mendengar tatanan sosial yang secara idiomatik terinspirasi dari aspirasi Hindu-Budha. Tatanan sosial dalam konsep kebudayaan masyarakatjawa yang kita kenal sebagai ‘kasta’. Tatanan sosial dan struktur budaya ‘kasta-wi’ oleh masyarakat modern dipahami secara reduktif dan distortif karena pengaruh sentimentalitas agama yang ditumbuhkan oleh semangat rivalisasi politik dan perspektif sejarah periodisasi. Padahal para leluhur kita telah berkontribusi besar dalam membangun suatu peradaban bermartabat dengan menciptakan tatanan sosial dan bangunan kebudayaan masyarakat yang berasal-usul dari dasar-nilai-filosofis  hakekat kebenaran alamiah dan universal.

Di dalam tatanan sosial masyarakat sekian abad silam, kita mengetahui bahwa posisi tertinggi dalam struktur sosial adalah Kaum Brahmana.  Kaum  Brahmana adalah orang dengan kualitas pribadi yang sudah bisa mengatasi kecenderungannya dengan segala hal yang bersifat duniawi. Kalau dalam Islam kualitas level dan maqom jenis ini adalah para ulama yang ‘zuhud’, yaitu manusia yang seluruh kesadaran hidupnya sudah memiliki ‘jarak rohani’ yang sangat jauh dari materi. Masyarakat pada jaman itu sangat menghormati kualitas pribadi semacam itu. Posisi sosial yang di tempati kaum Brahmana adalah posisi yang paling tinggi. Jika struktul sosial terbangun berdasarkan prinsip nilai yang memandang kualitas manusia berdasarkan parameter ruhaniah, maka itu berarti secara otomatis akan membuat  gerak kebudayaan manusia mengarah kepada nilai-nilai yang bersifat batiniah, dengan kata lain, materi atau harta tidak menjadi orientasi utama dalam skala prioritas hidup masyarakat. Semua orang akan melangkahkan hati dan seluruh kesadaran hidupnya kepada nilai-nilai yang dianggap dan diyakini bisa meninggikan derajat dan martabat hidupnya.Kondisi seperti ini menjadi sejalan dengan sebuah pohon yang selalu bergerak berdasarkan fitrah tradisi alam yaitu menuju dan mencari sumber cahaya. Kalau dalam perspektif Fisika kita mengenal fase transformative dari materi-energi- cahaya. Benda materi adalah padatan dengan derajat terendah dalam siklus dan metabolisme transformasi alam. Dalam agama setiap benda atau materi harus di ruhanikan, yaitu difungsi sosialkan menjadi kemanfaatan hidup.

Salah satu kebutuhan dasar manusia dalam pergaulan sosial adalah keinginan untuk ‘dihormati’. Jika parameter ‘keterhormatan’ seseorang adalah kualitas mental ‘zuhud’, maka dorongan syahwat untuk meraih materi menjadi terukur dan terkontrol oleh norma sosial. Masyarakat pada saat itu justru akan memandang keserakahan kepada harta adalah sebuah kehinaan. Ini bisa terlihat dari struktur ‘kasta’ masyarakat dalam tatanan sosial yang menempatkan orang kaya pada posisi sudra, yaitu posisi terendah.
Lain halnya dengan kondisi masyarakat modern yang menyebut dirinya demokratis, egaliter dan anti ‘kasta’, tetapi ‘diam-diam’ telah membalik tatanan hidup yang sesuai dengan fitrah alam dengan menciptakan ‘kasta’ baru. Dalam ‘kasta’ masyarakat modern keterhormatan hidup dilambangkan dengan kekayaan. Artinya orang yang paling banyak jumlah kekayaannya menempati posisi paling tinggi dalam struktur masyarakat modern. Kondisi seperti ini secara otomatis akan membuat manusia  sangat bernafsu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk ‘dihormati’ dalam pergaulan sosial.Tidak satupun manusia yang tidak ingin ‘terhormat’  kehidupan sosialnya. Karena ‘keterhormatan’  dalam masyarakat modern disyarati oleh kekayaan, maka semua manusia menjadi berlomba-lomba ingin mendapat harta sebanyak-banyaknya. Apapun profesi seseorang, tujuan utama hidupnya adalah ingin kaya. Pekerjaan tidak lagi dipandang dan dimaknai sebagai ‘pengabdian’ tetapi  disikapi hanya sebagai jalan untuk mendapatkan harta. Bahkan karena manusia gagal memaknai ‘bekerja‘ sebagai peristiwa  ‘mengabdi’ , manusia menjadi tereduksi hanya sebagai mesin pencari uang. Degradasi moral seperti ini telah membuat manusia hanya bersemangat untuk mendapat uang, tetapi tidak memiliki daya juang untuk bekerja. Dari sinilah pembusukan peradaban dimulai,karena hukum dan segala ‘tata krama’ sosial akan diterobos oleh manusia yang sudah dikuasai oleh syahwat material.

Kambing agar tidak ‘keluyuran’ memakan tanaman tetangga harus dibuatkan pagar. Pagar bagi kambing adalah fungsi hukum bagi manusia. Hukum dibuat dalam rangka memberi batas ‘benar dan salah’ atas perilaku manusia. Tatanan sosial masyrakat modern yang menempatkan orang kaya dalam posisi paling dihormati telah menyuburkan gairah syahwat manusia untuk ‘mati-matian’ mengejar dan mendapatkan harta. Batas-batas yang disepekati sebagai hukum agar martabat dan keberadaban kehidupan terjaga dan terkawal, menjadi  tidak dipedulikan. Jika Hukum sebagai batas terakhir yang memagari perilaku manusia agar tidak menyimpang dari kaidah benar dan salah sudah ‘kewalahan’, maka peradaban manusia sudah diambang batas keruntuhan. Artinya manusia menjadi berderajat lebih rendah dari binatang. Kondisi ini akan menjadi lebih parah jika aparat hukum sendiri tidak memiliki komitmen untuk menegakan hukum.
Di tengah peradaban materialisme, dimana jalan utama sejarah kebudayaan manusia kehilangan panduan batin dan nilai-nilai ruhani, institusi hukum menjadi sangat diharapkan peran kesejarahanya dalam menyelamatkan martabat dan kemuliaan sebuah peradaban. Ketika mental masyarakat terbonsai sedemikian rupa oleh tatanan sosial yang terstruktur berdasarkan parameter kebendaan, sangat mustahil rambu-rambu kultural berupa norma dan nilai-nilai yang bersifat cair akan bisa membendung ‘luapan air bah syahwat materialistic dan hedonistik’ masyarakat. Harus ada aturan formal dan padat berupa pasal-pasal hukum yang benar-benar ditegakan.

Ancaman sangsi keras dan tegas sebagai efek jera bagi siapa saja pelaku korupsi tampaknya menjadi ‘pembendung’ terakhir untuk segala bentuk kecenderungan  menyimpang. Jaksa, Hakim, Polisi harus benar-benar menyadari bahwa tugas mulia mereka adalah menjadi tiang penyangga tegaknya sebuah peradaban. Jika aparat hukum kehilangan ketahanan mental sehingga tembok moral mereka bisa ditembus oleh praktek-praktek suap, itu berarti harga hukum telah direndahkan menjadi sebatas harga ‘kacang rebus’, maka cepat atau lambat kebudayaan manusia sedang bergerak kedasar jurang sejarah melampaui kerendahan binatang.

Tetapi menyerahkan tugas penyelamatan peradaban hanya kepada institusi hukum tentu menjadi tidak adil, tanpa ada upaya – upaya moral kebudayaan secara simultan  dari setiap komponen sejarah. Karena tembok setebal apapun jika diterjang banjir bandang bertubi-tubi pasti akan runtuh. Gerakan untuk membalik kembali tata sosial dengan struktur yang sehat seirama dengan ‘jalan alam’, sebagaimana yang pernah dibangun oleh leluhur kita adalah jalan efektif untuk menciptakan situasi kondusif bagi lahirnya peradaban yang bermartabat. Ini harus dimulai dengan ‘suri teladan’ hidup sederhana dari para pemimpin. Ketika parameter terhormat  atau tidak terhormat  bukan lagi dipandang dari jumlah harta yang dimiliki, luapan air bah syahwat ingin kaya menjadi  reda. Peringatan hari anti korupsi sedunia tahun ini bisa kita jadikan ‘momentum’ pemantik kebangkitan dan penyadaran akan pentingnya menyelamatkan peradaban manusia.  Harus ada upaya kreatif dan sungguh – sungguh untuk pelan-pelan meredefinisi arti hidup sukses. Selama ini sukses dipahami secara masal oleh manusia modern sebagai banyak harta. Padahal berabad-abad leluhur kita hidup dengan ilmu dan pengetahuan mengenai sukses sebagai manusia adalah ketika kita memiliki produk moral sosial yang maslahat dan jumbuh dengan ‘kresaning Gusti’.

SOKAWERA, 26 NOV 2014
*Dibacakan saat Orasi Budaya dalam rangka Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia di Kejaksaan Negeri Purbalingga dihadapan Muspida kabupaten Purbalingga, tanggal 9 Desember 2014.

Oleh Agus Sukoco • 15 Desember 2014 Dipublikasikan dengan tag Esai


U19, Senja dan Fajar

U19, Senja dan Fajar
Kalau ada di antara Anda yang berusia setua saya dan punya anak atau cucu umur 18-19 tahun, kalau sempat nanti tolong sempatkan diri menatap wajahnya.
Sambil mengagumi gagah tubuhnya, amati ekspressi airmukanya, menyelamlah ke dalam kandungan sorot matanya. Jiwanya sedang pancaroba: ia masih membawa kesejatian batin dari Tuhan penciptanya, tapi juga sedang mulai meng-akses dunia orang dewasa, yang tingkat komplikasi tata-nilainya baru sangat sedikit mereka pahami.
Cak Nun bersama coach Indra Syafri
Cak Nun bersama coach Indra Syafri
Persentuhan ‘asal usul’ dan ‘sangkan paran’ (budaya manusia dewasa yang tidak bisa mereka elakkan untuk secara dinamis ‘menggerus’ jiwa mereka) akan bisa berharmoni, tapi mungkin juga akan bertubrukan, bertentangan, dan akan ada yang terbunuh dari bagian-bagian batin anak cucu kita 19 tahun itu.
Usia mereka adalah era persimpangan, pertempuran orientasi, komplek nilai-nilai yang mendera. Kita semua orang-orang tua harus memberi perhatian khusus kepada kondisi mereka, dan mengupayakan sekecil mungkin kita lakukan kesalahan di dalam memperlakukan mereka pada ranah nilai apapun yang berkaitan dengan dinamika kejiwaan mereka.
Sholat Magrib berjamaah saat silaturahmi Timnas U19 ke Rumah Maiyah Rubud EAN
Sholat Magrib berjamaah saat silaturahmi Timnas U19 ke Rumah Maiyah Rubud EAN
Beberapa puluh di antara anak cucu kita itu, yang sejumlah 23 pemuda di antara mereka sedang berada di Myanmar hari-hari ini, yang di pundak mereka kita letakkan beban yang sangat berat, harapan, tuntutan, kewajiban, atau apapun saja namanya yang intinya adalah ‘Indonesia menang’, dikasih jembatan yang bernama ‘Ayo Indonesia Bisa’.
Tuntutan yang berskala nasional itu bisa jadi tidak sekedar berkonteks sepakbola, tapi juga merupakan keluaran dari kompleks kekalahan-kekalahan nasional di segala bidang: frustrasi politik, ketidakamanan beragama, kegamangan demokrasi, disinformasi informasi, ketidakjelasan bernegara, ketidak-berwajahan kebudayaan, bahkan juga stress sehari-hari setiap orang, dari PKL yang lari-lari tergusur hingga orang parlemen yang sakit hati dan pemenang yang pelantikannya terulur-ulur.
Ada yang mengatakan, “Sesungguhnya rakyat Indonesia tidak memperlukan Pemerintah yang baik. Pemerintah dan Negara ada atau tidak sebenarnya juga relatif legitimasi kerakyatannya. Kalau ada Pemerintah korupsi, nggak apa-apa juga asal jangan terlalu berlebihan. Atau kalau terpaksanya Pemerintah memang direstui Tuhan pekerjaannya ngrepotin rakyat dan mentikusi harta rakyat, mungkin tidak terlalu masalah juga – asalkan timnas sepakbola kita menang….”
“Timnas menang” itu hari ini bak gunung di punggung kesebelasan U19 kita, dan untuk anak cucu kita usia 18-19 tahun gunung itu bisa saja tak tersangga dengan cukup kuat, meskipun sudah selalu ada refreshing agar mereka “bermain tanpa beban saja”. Mereka turun ke lapangan dicambuki oleh teriakan-teriakan “Ayo! Indonesia Bisa!” — secara psikologis kalimat itu lebih logis diucapkan oleh atmosfir ketidak-bisaan nasional kita di banyak bidang. Sebagai kakek saya mungkin ikut berteriak “Ayo, kamu bisa!”, dan teriakan itu landasan faktanya adalah karena saya sendiri selama ini nggak bisa-bisa.
Cak Nun, Novia Kolopaking, KiaiKanjeng, Letto dan Timnas U19
Cak Nun, Novia Kolopaking, KiaiKanjeng, Letto dan Timnas U19
Dalam pertandingan melawan Uzbekistan saya merasakan sendiri beratnya beban anak cucu 19 tahun itu. Mereka bermain tidak tanpa beban, melakukan beberapa kesalahan sehingga gol di gawang mereka. Padahal sebenarnya kelas mereka sama sekali tidak di bawah Uzbekistan. Tatkala pulang dari stadion naik bus dan ketika makan bersama, saya pandangi wajah-wajah mereka, dan sungguh tidak tega. Saya tidak bisa tidur, sampai kemudian berbincang dengan coach Indra Sjafri dan coach lainnya, juga dengan Pak Djohar Arifin, baru saya ‘hidup’ lagi.
Ternyata saya pun hanya orang-kecil salah satu penduduk Nusantara yang hati saya hari-hari ini sangat tergantung kepada acak cucu saya sendiri. Sedemikian lemahnya saya. Pak Djohar bilang ke wartawan “Cak Nun ini aktif mengawal pembinaan U19 di Yogya, beliau orang tuanya anak-anak kita itu di sana….” — dan ternyata itu tidak tepat amat. Sebab justru sayalah yang sangat bergantung kepada kekaguman dan kebanggaan saya kepada acak cucu 19 tahun itu.
Silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Saya tidak mengerti sepakbola, maka saya Tanya kepada seorang teman dan ia berceramah bahwa:
“Timnas Indonesia U19 itu pernah jaya di tahun 1961. Saat itu Juara di Asia ketika turnamen berlangsung di Bangkok. Kondisi saat itu hampir sama dengan sekarang, konflik di PSSI. Kemudian U19 pernah lolos ke Piala Asia lagi tahun 1978. Gagal total, tapi lolos ke piala dunia karena dinilai pembinaan pemainnya bagus. Saat itu yang boleh lolos ke Piala Dunia adalah finalis, jadi 2 tim saja.
Indonesia saat itu hanya sampai semifinal. Alasan FIFA saat itu hanya karena Indonesia memiliki sistem pembinaan pemain yang bagus, juga punya turnamen di kelompok usia yang lengkap, jadi diloloskan ke Piala Dunia. Harusnya yang lolos Irak, tapi ada dugaan konflik di FIFA, maka Indonesia yang lolos. Tampil di Piala Dunia U20, tapi gagal total juga. Dibantai Argentina 0-5, dihajar Yugoslavia 0-5 dan dibantai Polandia 0-6. SEA Games 1991 adalah prestasi tertinggi Indonesia, meraih medali emas.
Setelahnya langganan runner-up, baik di Sea Games maupun di AFF Cup (keduanya turnamen ASEAN). Piala AFF U19 2013 yang lalu sebenarnya juga dipandang sebelah mata. Masyarakat Indonesia mencapai titik jenuh karena sepakbola tidak menampilkan prestasi yang lebih tinggi dari sekedar runner up. Gegap gempita AFF U19 tidak seperti AFF 2010 yang lalu (timnas senior).
Sabrang (Noe Letto) pada saat silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Sabrang (Noe Letto) pada saat silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Begitu tembus semifinal dan final, Masyarakat baru sadar ada timnas yang baru yang memiliki masa depan cerah. Evan Dimas Juara, dan sebulan setelahnya berhasil lolos ke Piala Asia U19 setelah menyapu bersih 3 pertandingan kualifikasi Piala Asia di Jakarta melawan Laos, Philipina dan Korea Selatan.
Akibat jarang berprestasi, maka masyarakat memukul rata, nggak peduli timnas U19, U23 atau yang senior, pokoknya Indonesia harus juara. Harapan muncul di Timnas U19 ini. Makanya untuk Piala Asia ini agak rame sambutannya. Padahal kalau dibilang level, ini hanya U19.”
Mendengar ceramah kawan itu saya menemukan betapa bodoh dan kejamnya saya: diam-diam menuntut anak-cucu saya sendiri untuk pasti harus lolos ke Piala Dunia seakan-akan kita sudah langganan masuk ke putaran Piala Dunia.
Maka, berkat teman itu, ketika seorang wartawan bertanya, “Apakah U19 ini merupakan harapan bagi kebangkitan sepakbola Indonesia?” Saya menjawab, “Sudah bangkit! Anak-anak ini dengan para pemimpinnya sudah berlaku benar, baik dan khusyu, tidak hanya sebagai pemain sepakbola, tapi juga sebagai Manusia-Sepakbola dengan segala faktor kemanusiaan dan dimensi-dimensi psikologisnya, tidak hanya menghitung komposisi kepribadian per-individu, tapi juga latar belakang budayanya, level sosialnya, bahkan tradisi spiritualnya. Kita sudah bangkit. Kita sudah mulai berbuat benar dalam bersepakbola”.
“Bukankah kebaikan ditentukan oleh kemenangan?”
“Ya. Saya juga ingin mereka menang dan lolos. Tapi itu bukan satu-satunya faktor. Sebagaimana Anda kawin terus istrimu hamil, atau Anda bertani terus panen: hamil dan panen itu bagian Tuhan. Bagian kita adalah berjuang menghamili, berjuang menanam, berjuang menjalankan budaya dan mental persepakbolaan yang benar. Andaikan mereka tidak lolos, saya tetap kagum dan bangga berdasarkan sejarah prestasi mereka selama ini. Saya tetap cinta mereka.”
SIlaturrahmi Timnas U19 dengan beberapa panti asuhan yatim piatu di UNY
SIlaturrahmi Timnas U19 dengan beberapa panti asuhan yatim piatu di UNY
Tentu saja omongan saya yang kayak gitu tidak akan keluar di media massa apapun. Dan memang sebaiknya tidak dimuat, karena saya bukan pelaku sepakbola, bukan pengurus sepakbola, dan tidak punya posisi apapun di U19 maupun di persepakbolaan nasional.
Saya sekedar seorang kakek yang memprihatini masakini Indonesia dan mencintai kebangunan masa depannya. Ada bagian dari Indonesia yg sedang melangkah pasti menuju jurang kematian, ada bagian lain dari Indonesia yg diam-diam sedang menyusun kelahiran dan bahkan sudah lahir, sebagaimana U19 dalam persepakbolaan maupun “19” di bidang pertanian, innovasi tekonologi, kedewasaan beragama, kematangan pembelajaran politik dlsb. Saya juga saya temani hampir tiap hari di berates-ratus wilayah Negeri ini.
Ada bagian dari Indonesia yang sedang sedang memasuki senja dan siap tenggelam dalam di kegelapan malam, ada yang sedang memancarkan matahari baru di fajar hari.
Ada bagian dari Indonesia gegap gempita memuncaki kehancuran, ada bagian lain dari Indonesia yang tak kentara sedang menata kebangkitan.
Ada bagian dari Indonesia yang sedang riuh-rendah menyempurnakan kepalsuan, ada bagian lain dari Indonesia yang tersembunyi dari pemberitaan sedang merintis kesejatian.
Ada bagian dari Indonesia yang habis-habisan menyebarkan sihir, takhayul dan halusinasi, ada bagian lain dari Indonesia yang menaburkan kasunyatan kebenaran.
Ada bagian dari Indonesia yang mati-matian menyebarkan kecemasan, kesedihan dan pertengkaran, ada bagian lain dari Indonesia yang berkelana menyemarakkan persaudaraan, kesatuan dan kegembiraan.
Ada bagian dari Indonesia yang melemparkan sebagian bangsanya ke masa silam, ada bagian lain dari Indonesia yang merintis pembuatan fondasi dan batubata masa depan.
Di bagian fajar hari itulah saya hadir.
Yangon, 11 Oktober 2014.
Dimuat di http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/10/12/103315/2716358/425/u-19-senja-dan-fajar