Latest Updates

U19, Senja dan Fajar

U19, Senja dan Fajar
Kalau ada di antara Anda yang berusia setua saya dan punya anak atau cucu umur 18-19 tahun, kalau sempat nanti tolong sempatkan diri menatap wajahnya.
Sambil mengagumi gagah tubuhnya, amati ekspressi airmukanya, menyelamlah ke dalam kandungan sorot matanya. Jiwanya sedang pancaroba: ia masih membawa kesejatian batin dari Tuhan penciptanya, tapi juga sedang mulai meng-akses dunia orang dewasa, yang tingkat komplikasi tata-nilainya baru sangat sedikit mereka pahami.
Cak Nun bersama coach Indra Syafri
Cak Nun bersama coach Indra Syafri
Persentuhan ‘asal usul’ dan ‘sangkan paran’ (budaya manusia dewasa yang tidak bisa mereka elakkan untuk secara dinamis ‘menggerus’ jiwa mereka) akan bisa berharmoni, tapi mungkin juga akan bertubrukan, bertentangan, dan akan ada yang terbunuh dari bagian-bagian batin anak cucu kita 19 tahun itu.
Usia mereka adalah era persimpangan, pertempuran orientasi, komplek nilai-nilai yang mendera. Kita semua orang-orang tua harus memberi perhatian khusus kepada kondisi mereka, dan mengupayakan sekecil mungkin kita lakukan kesalahan di dalam memperlakukan mereka pada ranah nilai apapun yang berkaitan dengan dinamika kejiwaan mereka.
Sholat Magrib berjamaah saat silaturahmi Timnas U19 ke Rumah Maiyah Rubud EAN
Sholat Magrib berjamaah saat silaturahmi Timnas U19 ke Rumah Maiyah Rubud EAN
Beberapa puluh di antara anak cucu kita itu, yang sejumlah 23 pemuda di antara mereka sedang berada di Myanmar hari-hari ini, yang di pundak mereka kita letakkan beban yang sangat berat, harapan, tuntutan, kewajiban, atau apapun saja namanya yang intinya adalah ‘Indonesia menang’, dikasih jembatan yang bernama ‘Ayo Indonesia Bisa’.
Tuntutan yang berskala nasional itu bisa jadi tidak sekedar berkonteks sepakbola, tapi juga merupakan keluaran dari kompleks kekalahan-kekalahan nasional di segala bidang: frustrasi politik, ketidakamanan beragama, kegamangan demokrasi, disinformasi informasi, ketidakjelasan bernegara, ketidak-berwajahan kebudayaan, bahkan juga stress sehari-hari setiap orang, dari PKL yang lari-lari tergusur hingga orang parlemen yang sakit hati dan pemenang yang pelantikannya terulur-ulur.
Ada yang mengatakan, “Sesungguhnya rakyat Indonesia tidak memperlukan Pemerintah yang baik. Pemerintah dan Negara ada atau tidak sebenarnya juga relatif legitimasi kerakyatannya. Kalau ada Pemerintah korupsi, nggak apa-apa juga asal jangan terlalu berlebihan. Atau kalau terpaksanya Pemerintah memang direstui Tuhan pekerjaannya ngrepotin rakyat dan mentikusi harta rakyat, mungkin tidak terlalu masalah juga – asalkan timnas sepakbola kita menang….”
“Timnas menang” itu hari ini bak gunung di punggung kesebelasan U19 kita, dan untuk anak cucu kita usia 18-19 tahun gunung itu bisa saja tak tersangga dengan cukup kuat, meskipun sudah selalu ada refreshing agar mereka “bermain tanpa beban saja”. Mereka turun ke lapangan dicambuki oleh teriakan-teriakan “Ayo! Indonesia Bisa!” — secara psikologis kalimat itu lebih logis diucapkan oleh atmosfir ketidak-bisaan nasional kita di banyak bidang. Sebagai kakek saya mungkin ikut berteriak “Ayo, kamu bisa!”, dan teriakan itu landasan faktanya adalah karena saya sendiri selama ini nggak bisa-bisa.
Cak Nun, Novia Kolopaking, KiaiKanjeng, Letto dan Timnas U19
Cak Nun, Novia Kolopaking, KiaiKanjeng, Letto dan Timnas U19
Dalam pertandingan melawan Uzbekistan saya merasakan sendiri beratnya beban anak cucu 19 tahun itu. Mereka bermain tidak tanpa beban, melakukan beberapa kesalahan sehingga gol di gawang mereka. Padahal sebenarnya kelas mereka sama sekali tidak di bawah Uzbekistan. Tatkala pulang dari stadion naik bus dan ketika makan bersama, saya pandangi wajah-wajah mereka, dan sungguh tidak tega. Saya tidak bisa tidur, sampai kemudian berbincang dengan coach Indra Sjafri dan coach lainnya, juga dengan Pak Djohar Arifin, baru saya ‘hidup’ lagi.
Ternyata saya pun hanya orang-kecil salah satu penduduk Nusantara yang hati saya hari-hari ini sangat tergantung kepada acak cucu saya sendiri. Sedemikian lemahnya saya. Pak Djohar bilang ke wartawan “Cak Nun ini aktif mengawal pembinaan U19 di Yogya, beliau orang tuanya anak-anak kita itu di sana….” — dan ternyata itu tidak tepat amat. Sebab justru sayalah yang sangat bergantung kepada kekaguman dan kebanggaan saya kepada acak cucu 19 tahun itu.
Silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Saya tidak mengerti sepakbola, maka saya Tanya kepada seorang teman dan ia berceramah bahwa:
“Timnas Indonesia U19 itu pernah jaya di tahun 1961. Saat itu Juara di Asia ketika turnamen berlangsung di Bangkok. Kondisi saat itu hampir sama dengan sekarang, konflik di PSSI. Kemudian U19 pernah lolos ke Piala Asia lagi tahun 1978. Gagal total, tapi lolos ke piala dunia karena dinilai pembinaan pemainnya bagus. Saat itu yang boleh lolos ke Piala Dunia adalah finalis, jadi 2 tim saja.
Indonesia saat itu hanya sampai semifinal. Alasan FIFA saat itu hanya karena Indonesia memiliki sistem pembinaan pemain yang bagus, juga punya turnamen di kelompok usia yang lengkap, jadi diloloskan ke Piala Dunia. Harusnya yang lolos Irak, tapi ada dugaan konflik di FIFA, maka Indonesia yang lolos. Tampil di Piala Dunia U20, tapi gagal total juga. Dibantai Argentina 0-5, dihajar Yugoslavia 0-5 dan dibantai Polandia 0-6. SEA Games 1991 adalah prestasi tertinggi Indonesia, meraih medali emas.
Setelahnya langganan runner-up, baik di Sea Games maupun di AFF Cup (keduanya turnamen ASEAN). Piala AFF U19 2013 yang lalu sebenarnya juga dipandang sebelah mata. Masyarakat Indonesia mencapai titik jenuh karena sepakbola tidak menampilkan prestasi yang lebih tinggi dari sekedar runner up. Gegap gempita AFF U19 tidak seperti AFF 2010 yang lalu (timnas senior).
Sabrang (Noe Letto) pada saat silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Sabrang (Noe Letto) pada saat silaturrahmi Timnas U19 ketika Idul Adha di Kasihan Bantul
Begitu tembus semifinal dan final, Masyarakat baru sadar ada timnas yang baru yang memiliki masa depan cerah. Evan Dimas Juara, dan sebulan setelahnya berhasil lolos ke Piala Asia U19 setelah menyapu bersih 3 pertandingan kualifikasi Piala Asia di Jakarta melawan Laos, Philipina dan Korea Selatan.
Akibat jarang berprestasi, maka masyarakat memukul rata, nggak peduli timnas U19, U23 atau yang senior, pokoknya Indonesia harus juara. Harapan muncul di Timnas U19 ini. Makanya untuk Piala Asia ini agak rame sambutannya. Padahal kalau dibilang level, ini hanya U19.”
Mendengar ceramah kawan itu saya menemukan betapa bodoh dan kejamnya saya: diam-diam menuntut anak-cucu saya sendiri untuk pasti harus lolos ke Piala Dunia seakan-akan kita sudah langganan masuk ke putaran Piala Dunia.
Maka, berkat teman itu, ketika seorang wartawan bertanya, “Apakah U19 ini merupakan harapan bagi kebangkitan sepakbola Indonesia?” Saya menjawab, “Sudah bangkit! Anak-anak ini dengan para pemimpinnya sudah berlaku benar, baik dan khusyu, tidak hanya sebagai pemain sepakbola, tapi juga sebagai Manusia-Sepakbola dengan segala faktor kemanusiaan dan dimensi-dimensi psikologisnya, tidak hanya menghitung komposisi kepribadian per-individu, tapi juga latar belakang budayanya, level sosialnya, bahkan tradisi spiritualnya. Kita sudah bangkit. Kita sudah mulai berbuat benar dalam bersepakbola”.
“Bukankah kebaikan ditentukan oleh kemenangan?”
“Ya. Saya juga ingin mereka menang dan lolos. Tapi itu bukan satu-satunya faktor. Sebagaimana Anda kawin terus istrimu hamil, atau Anda bertani terus panen: hamil dan panen itu bagian Tuhan. Bagian kita adalah berjuang menghamili, berjuang menanam, berjuang menjalankan budaya dan mental persepakbolaan yang benar. Andaikan mereka tidak lolos, saya tetap kagum dan bangga berdasarkan sejarah prestasi mereka selama ini. Saya tetap cinta mereka.”
SIlaturrahmi Timnas U19 dengan beberapa panti asuhan yatim piatu di UNY
SIlaturrahmi Timnas U19 dengan beberapa panti asuhan yatim piatu di UNY
Tentu saja omongan saya yang kayak gitu tidak akan keluar di media massa apapun. Dan memang sebaiknya tidak dimuat, karena saya bukan pelaku sepakbola, bukan pengurus sepakbola, dan tidak punya posisi apapun di U19 maupun di persepakbolaan nasional.
Saya sekedar seorang kakek yang memprihatini masakini Indonesia dan mencintai kebangunan masa depannya. Ada bagian dari Indonesia yg sedang melangkah pasti menuju jurang kematian, ada bagian lain dari Indonesia yg diam-diam sedang menyusun kelahiran dan bahkan sudah lahir, sebagaimana U19 dalam persepakbolaan maupun “19” di bidang pertanian, innovasi tekonologi, kedewasaan beragama, kematangan pembelajaran politik dlsb. Saya juga saya temani hampir tiap hari di berates-ratus wilayah Negeri ini.
Ada bagian dari Indonesia yang sedang sedang memasuki senja dan siap tenggelam dalam di kegelapan malam, ada yang sedang memancarkan matahari baru di fajar hari.
Ada bagian dari Indonesia gegap gempita memuncaki kehancuran, ada bagian lain dari Indonesia yang tak kentara sedang menata kebangkitan.
Ada bagian dari Indonesia yang sedang riuh-rendah menyempurnakan kepalsuan, ada bagian lain dari Indonesia yang tersembunyi dari pemberitaan sedang merintis kesejatian.
Ada bagian dari Indonesia yang habis-habisan menyebarkan sihir, takhayul dan halusinasi, ada bagian lain dari Indonesia yang menaburkan kasunyatan kebenaran.
Ada bagian dari Indonesia yang mati-matian menyebarkan kecemasan, kesedihan dan pertengkaran, ada bagian lain dari Indonesia yang berkelana menyemarakkan persaudaraan, kesatuan dan kegembiraan.
Ada bagian dari Indonesia yang melemparkan sebagian bangsanya ke masa silam, ada bagian lain dari Indonesia yang merintis pembuatan fondasi dan batubata masa depan.
Di bagian fajar hari itulah saya hadir.
Yangon, 11 Oktober 2014.
Dimuat di http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/10/12/103315/2716358/425/u-19-senja-dan-fajar

Allah dan Tetangga

sumber gambar

Meskipun doa itu bebas sensor, tapi musti dikira-kira bukan? Allah menawarkan kepada hamba-hambaNya agar memohon kepadaNya dan Ia berjanji akan mengabulkan.
Jangankan Allah, sedangkan tetangga sebelah — kalau sehari-hari kepadanya kita tidak menunjukkan sikap yang baik dan bertanggung jawab sebagai makhluk sosial — tentu ia malas untuk punya ide mengirimi makanan kepada kita.
Bahkan seandainya kita bersikap tidak tahu diri dan nekad bertamu ke rumahnya mengemukakan kebutuhan: Anda tentu setuju bahwa menyuguhi segelas teh sajapun diam-diam hatinya tidak ikhlas.
Pernahkah kita memperlakukan Allah lebih baik, santun dan bertanggung jawab, dibanding perlakuan kita kepada para tetangga?

sumber : caknun.com

Demokrasi dan ‘Egomania’


Saya menduga keras bahwa secara ilmu bahasa, istilah ‘egomania’ tampaknya tak bisa dibenarkan. Tetapi saya tidak sanggup menjumpai idiom lain untuk mewakili apa yang hendak saya jelaskan.
Ialah suatu kondisi mentalitas di mana ‘kosmos kepribadian’ seseorang hampir seluruhnya diisi oleh hanya dirinya sendiri. ‘Dirinya sendiri’ itu mungkin lebih gamblang kalau saya sebut ego-pribadi, atau bahasa umum menyebutnya ‘interest pribadi’. Idiom yang saya gunakan itu memakai kata ‘mania’ untuk menerangkan kadar kepenuhan interest pribadi itu di setiap sepak terjang seseorang. ‘Stadium tinggi’ egoisme itu membuat orang tersebut tidak memiliki aktivitas sosial, karena setiap perilaku ‘sosial’nya sesungguhnya merupakan aktivitas pribadi. Dengan kata lain, seluruh dunia ini, orang lain, lingkungan, fasilitas-fasilitas kehidupan, hanyalah ‘bagian’ dari egonya.
Anda boleh membayangkan jika —misalnya— negara, partai politik, lembaga-lembaga sosial, rakyat, tanah, hasil bumi, atau lebih eksplisit: institusi Ikadin atau AAI umpamanya hanyalah bagian dari egoisme atau interest pribadi-pribadi.
Sesungguhnya Anda boleh percaya bahwa hal demikian sudah merupakan pemandangan ‘lumrah’ di sekitar kita. ‘Pancasila’, ‘Islam’, ‘Kesatuan dan Persatuan’, ‘Manusia Indonesia Seutuhnya’, ‘Konstitusi’, atau apapun, amat sering diucapkan tidak sebagai kebenaran diri idiom-idiom itu sendiri, melainkan sebagai alat dari proyek interest-interest pribadi. Pancasila seringkali hanyalah berfungsi instrumental, sedang yang substansial adalah ‘egomania’.
Sesungguhnya pula, jika Anda memasuki hakekat realitas dunia perpolitikan — dalam konteks sempitnya maupun konteks luasnya — pandangan mata Anda insyaallah akan bergelimangan egomania. Lantas Anda akan juga merasa tergetar apabila menyaksikan betapa batu cadas egomania itu dikonstruksikan dengan pilar-pilar kekuasaan politik, fundamental-fundamental beton persenjataan, serta dinding-dinding tebal kulturalisme dan ‘birokratisme’.
Jika sebuah komunitas, atau setidaknya sebuah organisasi, mengalami keretakan: Anda silahkan bersangka baik bahwa itulah mekanisme demokrasi. Itulah potret pluralitas di mana perbedaan pendapat dan kehendak boleh dipergunakan.
Akan tetapi jika kemudian Anda menjumpai bahwa itu bukanlah perbedaan pendapat tentang kebenaran, melainkan benturan kepentingan-kepentingan ‘egomania’, persilahkanlah hati nurani Anda menitikkan air mata.
Apalagi jika cara untuk berbeda yang dipakai oleh kaum intelektual, priyayi modern, pengemban prinsip hukum, serta teladan bagi jutaan rakyat yang selalu dituduh ‘buta hukum’ — persis dengan cara para korak atau gali membenturkan perbedaan.
Kita adalah manusia modern yang tak tahu diri. []
Pernah dimuat di Rubrik Wall Pass, Yogya Post, Jumat Pon, 3 Agustus 1990
Dokumentasi Progress


Wajah Komersial

sumber gambar
Kalau kita buang angin, yang kita cuci atau kita basuh dengan air dalam berwudlu, bukanlah wilayah biologis yang mengeluarkan angin itu, melainkan wajah kita. Mungkin karena yang harus terutama dipertahankan oleh manusia adalah kebersihan jiwa dan kualitas kepribadiannya, yang tercermin atau diwakili oleh penampilan wajahnya.
Akan tetapi pikiran dan prinsip semacam itu tidak cocok dengan dunia modern, karena tidak realistis dan kurang pragmatis. Yang paling utama dari wajah manusia bukanlah muatan mutunya, bukan keindahan pribadinya, juga bukan tanggung jawab sosialnya — melainkan apakah ia komersial atau tidak, marketable atau tidak, alias layak jual atau tidak.
Sebagian dari Anda tentu tidak pernah menyangka bahwa Tuhan menciptakan wajah manusia itu urusan utamanya adalah jual beli kepribadian dan kemanusiaan.
sumber

The Politics of Kissing Hands

sumber gambar
Seorang pembaca harian ini dari Bogor, yang tulus hatinya dan tegak pikirannya, yang bersahaja hidupnya maupun sangat serius hajinya — sejak beberapa bulan yang lalu menuntut saya agar  menuliskan lewat rubrik ini suatu masalah yang ia sodorkan kepada saya melalui surat. Masalah yang baginya amat sangat penting, dan alhamdulillah bagi saya juga amat sangat penting.
Lebih alhamdulillah lagi karena Rasulullah Muhammad saw, juga sangat concern terhadap soal ini,  terbukti lewat banyaknya sabda beliau yang khusus mempermasalahkannya. Juga bagi Allah swt sendiri — sepengetahuan saya — soal ini juga termasuk tema primer dan prinsipil yang harus diurus oleh hamba-hambaNya secara murni dan konsekuen.
Mustahil kalau bagi Allah masalah ini tergolong sekunder. Hal mengenai siapa yang dihormati dan siapa yang menghormati, telah ia informasikan acuan dasar akhlaq atau moralitasnya. Allah tidak memerintahkan agar seorang bapak atau ibu merunduk di depan anak-anaknya, melainkan anak-anak yang dengan prinsip birrul walidain wajib menghormati bapak-ibu mereka.
Bukan karena iseng-iseng saja Allah menciptakan adegan di mana ia memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Episode ini tidak bisa diubah misalnya dengan meletakkan iblis sebagai aktor yang disembah sementara Adam mensujudinya. Menurut salah satu logika tafsir, begitu satu  malaikat menolak menyembah Adam, turun derajat atau kualitas malaikat itu — dari “cahaya” menjadi “api”. Ilmu bahasa Alquran kemudian juga berkembang mengacu pada kasus ini, di mana nur (cahaya) selalu dipakai untuk menggambarkan kemuliaan di akhirat, sementara nar (api, neraka) digunakan sebagai simbul dari kehinaan dan kesengsaraan.
Padahal nur dan nar berasal dari komposisi huruf dan rumpun kosakata yang sama.
Iblis ogah menyembah Adam karena alasan feodalisme dan alasan penolakan terhadap regenerasi. Alasan feodalnya, atau bahasa simbolisasi Qur’aniyahnya bernama takabur (gemedhe, sok lebih hebat), karena Iblis merasa dirinya terbuat dari material atau dzat yang lebih tinggi, halus, kualitatif, dan lebih mulia dibanding Adam yang hanya sedikit lebih tinggi dibanding keramik yang sama-sama terbuat dari tanah liat. Padahal Allah sudah menetapkan bahwa Adam ituahsanu taqwin (sebaik-baik ciptaan), karena manusia dianugerahi “cakrawala” (kemungkinan), sementara malaikat atau iblis hanya memiliki “tembok statis” (kepastian) untuk baik atau kepastian untuk buruk. Manusia yang mengolah dirinya dalam kebenaran akan berkualitas mengungguli malaikat, sementara manusia yang memperosokkan diri dalam kesesatan akan berderajat lebih rendah dibanding iblis dan setan.
Sedangkan alasan “penolakan terhadap sunnah regenerasi” — maksudnya adalah ketidaksediaan iblis untuk menerima kepemimpinan manusia atas alam semesta. Bagi iblis manusia itu “anak kemarin sore” kok mau sok memimpin.
Emangnya dia sudah pernah ikut penataran P-4 atau memiliki sertifikat Pekan Kepemimpinan HMI atau PMII! Kok berani-beraninya menjadi khalifah! Apakah manusia sudah punya pengalaman dan jam kerja kepemimpinan, sehingga berani sombong mencalonkan diri atau tenang-tenang saja ketika diputuskan oleh Allah untuk menjadi pemimpin?
Demikianlah, karena hakekat eksistensi manusia adalah “pengembaraan ke cakrawala kemungkinan” — maka ia bisa tiba pada ruang, waktu dan posisi untuk berhak dihormati atau justru wajib  menghormati.
Para nabi, rasul, dan auliya’ sukses memposisikan diri untuk dihormati oleh para malaikat, ditemani oleh makhluk-mahkluk rohaniah itu ke manapun mereka pergi.
Sementara banyak manusia lain, misalnya Gendheng Pamungkas, sengaja atau tak sengaja melakukan mengembaraan untuk memposisikan diri agar justru menghormati iblis. Bahkan kita semua ini sesungguhnya diam-diam memiliki dimensi-dimensi nilai empirik yang membuat kita layak menghormati iblis — berkat suksesnya rekruitmen dan mobilisasi mereka atas kita-kita yang hina ini.
Kaum ulama juga terdiri atas manusia-manusia biasa yang menempuh cakrawala. Mereka bisa tiba di suatu maqam tinggi, suatu istiqamah, suatu tempat berdiri nilai — yang membuat mereka dihormati oleh ummatnya, dihormati oleh umara, didatangi oleh pejabat gubernur, menteri, dan presiden. Namun bisa juga kaum ulama tiba pada suatu derajat yang tidak mengandung kualitas istiqamah apa-apa, tidak memiliki cahaya kemuliaan sebagai golongan yang ‘alim — sehingga justru mereka dalam tatanan struktural keduniaan justru berderajat untuk selalu sowan kepada umara.
Lebih mengasyikkan lagi kerena sangat banyak ulama, keulamaan, dan kelembagaan ulama yang legitimasinya berasal dari umara. Derajat mereka sangat rendah, dan tak berkurang kerendahannya meskipun ditutup-tutupi dengan seribu retorika dunia modern mengenai partnership antara ulama-umara atau dengan dalih-dalih dan alibi-alibi apapun.
Ulama-ulama jenis ini keadaannya sangat mengenaskan hati. Mereka selalu mengikatkan tangannya pada borgol kekuasaan. Membungkukkan punggungnya di hadapan penguasa dunia, bahkan tidak berkeberatan sama sekali untuk mencium punggung tangan sang penguasa. Di zaman terang dahulu kala terdapat banyak cerita mengenai ‘kesombongan’ ulama yang tak mau dipanggil penguasa, karena derajat ulama bukanlah ditimbali atau didhawuhi oleh penguasa, melainkan dihormati dan dibutuhkan oleh penguasa. Di zaman bebendhu sekarang ini, banyak ulama bukan saja akan sangat senang kalau dipanggil menghadap ke istana penguasa, tapi bahkan selalu mencari jalan, lobi dan channel bagaimana bisa menghadap penguasa.
Sowan ulama kepada umara adalah sebuah mainstream bahasa kolaborasi terhadap kekuasaan. Sowan adalah pernyataan kesetiaan politik ulama kepada umara. Ulama yang membungkuk dan mencium tangan penguasa adalah simbolisasi dari tidak hidupnya etos zuhud di kalangan ulama.
Sowan mencerminkan ketergantungan kaum ulama kepada kekuasaan, keamanan politik praktis, dan mungkin juga jatah-jatah ekonomi — meskipun sekedar arisan naik haji atau dibikinkan satu unit gedung pesantren.
Yang paling salah dari episode-episode sejarah semacam ini adalah Anda-anda yang pusing kepala gara-gara tetap saja meyakini bahwa mereka adalah ulama.
Pernah dimuat di Keranjang Sampah Harian Umum Republika.

Jadwal Maiyah dan Agenda Cak Nun Mei 2014

sumber gambar


Seminar “Budaya, Kemandirian dan Martabat Bangsa”

Sarasehan Budaya

Majlis Masyarakat Maiyah: Kenduri Cinta

Majlis Masyarakat Maiyah: Juguran Syafaat

Isra’ Mi’raj dan Hari Jadi Kab. Wonogiri

Majlis Masyarakat Maiyah: Mocopat Syafaat

Majlis Masyarakat Maiyah: Gambang Syafaat

Banawa Sekar

Haflah Akhirussannah

INFORMASI

Bau Mulut

sumber gambar
Kalau yang keluar dari mulut kita adalah kalimat-kalimat yang menyakitkan hati, tidak apa- apa. Kalau ungkapan yang nongol dari mulut kita mengandung kemudaratan sosial, masih bisa dimaafkan.
Kalau bunyi kalimat yang muncul dari mulut kita tidak etis, a-sosial, menyinggung perasaan orang banyak, menghina rakyat, meremehkan Tuhan atau apapun, masih bisa dianggap bukan soal.
Yang menjadi soal terpenting bagi kita semua sekarang adalah kalau dari mulut kita mengepul aroma bau busuk alias tidak sedap.
Oleh karena itu yang kita dakwahkan bukanlah kebenaran, kebaikan dan keindahan nilai dari ekspresi manusia. Yang kita bayar mahal adalah alat-alat yang membuat mulut kita tidak bau ketika ngomong.

Senang dan Ketemu

Seandainya Anda tidak senang ketemu saya, entah karena tidak percaya pada hidup saya, entah karena benci, dengki atau apapun — saya berdoa semoga Allah memperkenankan kita berdua untuk terhindar dari pertemuan, dalam bentuk dan cara apapun selama hidup kita di dunia.
Tapi seandainya Anda senang bertemu saya, sebagaimana saya sangat senang berjumpa dengan Anda semua, apalagi secara langsung — mohon maaf saya tidak berdoa semoga Allah mempertemukan kita.
Doa saya adalah: Semoga Allah menghemat waktu Anda, enerji Anda, pikiran dan seluruh potensialitas hidup Anda — tidak melalui jalan di mana Anda dipertemukan dengan saya, melainkan Anda dipertemukan dengan segala sesuatu yang memang benar-benar Anda butuhkan secara hakiki.

“Apa tho Nak, Emansipasi itu?”


Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib


Ibu menjaga hasrat baik agar terus
memenuhi desa, berperang melawan
kelapukan akibat tumpahan hujan dari
kekuatan-kekuatan yang mengatasi
desa kita.

Mungkin sekedar ‘kelas’ rukuh, tapi
soalnya ialah kerajinan Ibu untuk
menerobos dan menelusup, di samping
rukuh memang menyediakan rasa tidak
aman bagi kemunafikan. Ibu juga maju
ke Pak Polisi, angkat tangan memotong
pidato Pak Pejabat di mimbar, melayani
segala kesulitan pekerjaan birokratis
yang bisanya ditangani oleh kaum
lelaki, menampung pertengkaran
suami istri-suami istri, membendungi
gejala saling benci di antara siapapun,
mempertanyakan sesuatu kepada Pak-
Pak Pamong, tanpa rasa sungkan atau
pakewuh seperti yang lazim diketahui
sebagai lenderteal pembungkus sikap
sosial orang Jawa. Meskipun toh
frekuensi ketidakberesan yang pada
umumnya tumpah dari atas selalu akan
bisa mengubur usaha-usaha hasrat baik
Ibu.

Pasti ada ribuan orang di negeri ini
yang melakukan seperti yang Ibu
lakukan. Ratusan kawan-kawan
anakmu juga mampu mengerjakan
berbagai hal yang penuh arti. Tapi
lihatlah, apa yang lebih bermutu dari
sepak terjang anakmu ini selain
merengek-rengek?

Banyak hal pada kegiatan kaum wanita di desa kita yang membuat segala
pembicaraan tentang masyarakat
patrimonial menjadi terasa aneh. Tetapi
toh Ibu juga tak bosan-bosan bertanya
kepada anak-anakmu atau kepada
kawan-kawan anak-anakmu yang
datang ke desa:“apa tho Nak
emansipasi wanita itu?”

(Sumber: “IBU, TAMPARLAH MULUT ANAKMU” Sekelumit Catatan Harian. 23.8.1985. foto oleh: Budhi Ipoeng)

Senang dan Ketemu

sumber gambar
Seandainya Anda tidak senang ketemu saya, entah karena tidak percaya pada hidup saya, entah karena benci, dengki atau apapun — saya berdoa semoga Allah memperkenankan kita berdua untuk terhindar dari pertemuan, dalam bentuk dan cara apapun selama hidup kita di dunia.
Tapi seandainya Anda senang bertemu saya, sebagaimana saya sangat senang berjumpa dengan Anda semua, apalagi secara langsung — mohon maaf saya tidak berdoa semoga Allah mempertemukan kita.
Doa saya adalah: Semoga Allah menghemat waktu Anda, enerji Anda, pikiran dan seluruh potensialitas hidup Anda — tidak melalui jalan di mana Anda dipertemukan dengan saya, melainkan Anda dipertemukan dengan segala sesuatu yang memang benar-benar Anda butuhkan secara hakiki.