Latest Updates

Racun dan Pemimpin Dunia

sumber gambar
Terlalu banyak racun.
Kita sendiri memproduksi racun yang luar biasa besar. Kita menjalankan politik dengan memproduksi racun, bahkan kita menjalankan agama dengan produksi racun yang luar biasa, kita menjalankan industri, media, kebudayaan, peradaban dengan racun. Produksi utama kita adalah racun-racun.
Nah sekarang yang keracunan bukan hanya pikiranmu dan hatimu, sekarang awakmu (jasadmu) juga harus hati-hati. Kalau sakit gatal-gatal, loro tatu-tatulorotenggorokan serak-serak, aliran-aliran yang aneh di dalam tubuh anda. Tolong daya tahan badan Anda betul-betul dicek untuk supaya tetap prima, sehingga Anda tidak bisa dikalahkan oleh seluruh gejala dunia, karena Anda adalah pemimpinnya dunia, bukan Anda yang dipimpin dunia.

Syair Tukang Bakso

sumber gambar
Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan piring dengan sendoknya.
Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.
“Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso!” gerutu seseorang.
“Bukan sekali dua kali ini dia mengacau!” tambah lainnya, dan disambung — “Ya, ya, betul!”
“Jangan marah, ikhwan,” seseorang berusaha meredakan kegelisahan, “ia sekedar mencari makan….”
“Ia tak punya imajinasi terhadap apa yang kita lakukan!” potong seseorang yang lain lagi.
“Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan-jangan ia minan-nashara!” sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustadz juga mengeras: “Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepadaNya, yang lain-lain menjadi kecil adanya.”
“Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi tukang bakso? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso? Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?”
“Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua.”
Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
“Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,” Pak Ustadz melanjutkan, “karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat… Masya Allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!”
1987

Kurikulum Curang

sumber gambar
Saya tak berani memastikan apakah kecurangan termasuk ke dalam kurikulum pelajaran atau pelatihan sepakbola. Tapi setidaknya pendidikan ini tentu dilakukan secara ekstra kurikuler. Setidaknya setiap pemain belajar secara diam-diam, membawa ‘buku kecurangan’, terutama para pemain yang merasa berbakat menjadi ‘petugas pembunuh’.
Jangankan sepakbola, sedangkan Sekolah atau Universitas saja tidak punya urusan dengan kejujuran atau kecurangan. Dunia akademis hanya mengkaitkan diri dengan tahu dan tidak tahu, mengerti dan tidak mengerti, serta pintar atau bodoh.
Adapun jujur atau baik, bukan urusan ilmiah.

Hancurkan Kebinatanganku

sumber gambar
Pada setiap raka’at sembahyang yang tanpa duduk tahiyat, Anda memerlukan tahap ruku’ dari qiyam menuju posisi sujud. Tapi kemudian dari posisisujud ke qiyam, Anda melakukannya langsung tanpa ruku’.
Ini acuan pertama.
Acuan kedua adalah pertemuan Anda dalam shalat dengan beberapa karakter atau sifat Allah Swt. Ini berdasarkan kalimat-kalimat yang Anda ucapkan selama melakukan shalat.
Pertama, tentu saja Allah yang Akbar. Lantas ia sebagai Rabbun. Selanjutnya,Rahman dan Rahim.  Kemudian hakekat kedudukannya sebagai Malik. Dan akhirnya Allah yang ‘Adhim dan A’la.
Kedudukan Allah sebagai Akbar atau Yang Maha Lebih Besar (Ia senantiasa terasa lebih besar, dinamis, tak terhingga, seiring dengan pemuaian kesadaran dan penemuan kita) — kita ucapkan untuk mengawali shalat serta untuk menandai pergantian tahap ke tahap berikutnya dalam shalat.
Artinya, setiap langkah kesadaran dan laku kita letakkan di dalam penghayatan tentang ketidakterhinggaan kebesaran-Nya.
Si Maha Lebih Besar yang dahsyat itu bukannya mengancam dengan kebesaran-Nya, melainkan mengasuh kita melalui fungsi-Nya sebagai Robbun.
Sebagai Yang Maha Mengasuh, Ia bersifat penuh kasih dan penuh sayang.Rahman dan Rahim. Penuh cinta dalam konteks hubungan individual Ia dengan Anda, maupun dalam konteks hubungan yang lebih ‘heterogen’ antara Ia dengan komprehensi kebersamaan kemanusiaan  dan alam semesta.
Tapi jangan lupa Ia adalah Raja Diraja. Ia Malik, hakim agung di hari perhitungan. Ia sekaligus Maha Legislatif, Maha Eksekutif dan Maha Yudikatif.
Dan memang hanya Ia yang berhak penuh merangkum seluruh kedudukan itu hanya dengan diri-Nya yang Sendiri, tanpa kita khawatirkan terjadi ketidakadilan dan ketidakjujuran — yang pada budaya kekuasaan antarmanusia dua faktor itu membuat mereka menciptakan perimbangan sistem trias politica.
Kemudian karakter dan kedudukan-Nya sebagai ‘Adhim dan A’la. Yang Mahabesar (horizontal) dan Mahatinggi (vertikal).
Yang ingin saya kemukakan kepada Anda adalah bahwa kita menyadari-Nya sebagai A’la, Yang Mahatinggi itu, tatkala dalam shalat kita berposisi dan bersikap sebagai binatang. Artinya, kalau kita menyadari kebinatangan kita, yakni dalam keadaan bersujud: badan kita menelungkup bak binatang berkaki empat.
Ketika kita beroperasi setengah binatang, waktu ruku’ bagaikan monyet yang seolah berdiri penuh seperti manusia namun tangannya berposisi sekaligus sebagai kaki — yang kita sadari adalah Allah sebagai ‘Adhim.
Dan ketika kita berdiri (qiyam), Allah yang kita hadapi adalah Allah Rahman,Rahim, dan Malik. Binatang yang ‘ruku’ dan ‘sujud’ tidak memiliki tradisi intelek dan kesadaran ontologis, sehingga tidak terlibat dalam urusan dengan Maliki Yaumiddin. Raja Hakim hari perhitungan. Kadal dan monyet, termasuk juga virus HIV, tidak diadili, tidak masuk sorga atau neraka.
Ketika kita ‘menjadi’ binatang atau menyadari potensi kebinatangan diri saat sujud dan ruku’, kedudukan subyek kita waktu itu adalah aku. Maka kita ucapkansubhana robiiya…. bukan subhana robbina.
Subyek ‘aku’, dengan aksentuasi egoisme, individualisme, egosentrisme, dst lebih dekat ke kebinatangan, dan itu yang harus kita sujudkan ke hadapan Allah Swt.
Adapun ketika kita berdiri, ‘qiyam’, kita menjadi manusia kembali. Dan subyek kita ketika itu bukan lagi ‘aku’ melainkan ‘kami’. Artinya, tanda-tanda eksistensi kemanusiaan adalah pada kadar sosialitasnya, kebersamaannya, integritas kanan-kirinya. Kalau binatang, secara naluriah ia bermasyarakat, tapi oleh Allah mereka tidak dituntut atau ditagih tanggung jawab kemasyarakatannya. Tuntutan dan tagihan itulah yang membedakan antara binatang dan manusia. Itu pulalah yang menghinakan manusia, atau justru memuliakannya.
Mungkin itulah sebabnya maka sesudah kita ber-takbiratul ihram dan berdiri ‘sebagai manusia’, Allah menyuruh kita untuk berlebih dahulu menyadari kebinatangan kita dalam sujud, melalui transisi ruku’. Nanti sesudah sujudnya penuh, silakan langsung berdiri kembali sebagai manusia.
Nanti menjelang Pemilu, pesta demokrasi yang urusannya bergelimang kekuatan dan kekuasaan di antara sesama manusia — ada baiknya semua pihak memperbanyak sujud. Agar supaya kebinatangan diminimalisir.
Dan semoga jangan banyak-banyak yang bersikap sebagaimana iblis, yang menolak sujud, karena merasa lebih tinggi, lebih benar, dan takabbur.
Ah, nanti panjang sekali kalau saya teruskan…. []
Dimuat di Harian Republika, 31 Maret 1996, dan terhimpun dalam buku “Keranjang Sampah” (Emha Ainun Nadjib, Zaituna, 1998).

Anjuran Simbah

sumber gambar

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum wr wb
  1. Setiap pengambilan keputusan, termasuk hal Pemilu, ahsan wa afdhal jika dilakukan sendiri secara mandiri, sebagai al’abd al-baligh (hamba Allah yg dewasa) dan al-khalifah al’aqil (khalifah Allah pengguna akal).
  2. Akan memilih atau tidak, dianjurkan malam sebelum hari-H melakukan tafakur, shalat istikharoh dan shalat tahajjud, memohon petunjuk Allah dan mewiridkan berulang-ulang “Ya Hadi Ya Mubin” semampunya.
  3. Khusus untuk Jamaah Maiyah, ahsan wa afdhal jika malam itu sebelum tidur melaksanakan Doa Tahlukah.
  4. Jika pagi hari-H mengambil keputusan untuk tidak memilih (karena keyakinan atau pandangan yg dipercaya sudah matang) dianjurkan untuk shalat Dhuha 7x (14 roka’at), membaca “Qul in dholaltu fainnama adhillu ‘ala nafsi, wa inihtadaitu fabima yuhiya ilayya Robbi” diakhiri istighfar sebanyak2nya sesanggupnya.
  5. Jika mengambil keputusan untuk memilih, dianjurkan untuk memilih pihak yang paling diharapkan (berdasarkan pengalaman dan sejarah calon pemilih terhadap yg diharapkannya itu), meskipun tidak dimengerti benar karena terbatasnya informasi tentang pihak yg diharapkan itu. Dengan anjuran: sejak dari rumah hingga saat-saat menunggu giliran memilih, maupun ketika akan melaksanakan pilihan di dalam ruangan — mewiridkan (berbisik-bisik atau dengan hati) “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul Makirin”.
  6. Setiap hamba Allah berhak penuh untuk menerima dan melaksanakan anjuran ini, juga berhak penuh untuk menolak dan mengabaikannya. Bagi teman-teman yang tidak mungkin menggunakan anjuran-anjuran ini karena berbeda idiom dan prosedur keagamaannya, mohon diapresiasi dimensi rohaniahnya.
  7. “Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah”.
Wassalam wr wb
S i m b a h
8 April 2014

Pengajian Full Lucu Banget Cak Nun Terbaru 2014 - Membahas NU dan Muhammadiyah

Pengajian Full Lucu Banget Cak Nun Terbaru 2014 - Membahas NU dan Muhammadiyah

Bukan Aku, Tapi Tuhanku

sumber gambar
Kalau atas dosa-dosa selama hidupku yang kumohonkan kepada-Nya hanyalah ampunan, maka aku takut fokus ibadatku hanyalah penyelamatan diri sendiri.
Padahal titik berat nilai hidupku bukanlah aku ini, melainkan Tuhanku.
Demi Allah yang kau serta segala yang ada padaku berasal semata-mata dari-Nya, baru sampai di tahap itulah pemahamanku atas nilai tauhid.

Jadwal Maiyah Cak Nun April 2014

Jadwal Maiyah Cak Nun April 2014

Kenduri Cinta

Juguran Syafaat

Kenduri Cinta Hongkong

Padhangmbulan

Bangbang Wetan

Mocopat Syafaat

Gambang Syafaat

Memilih Presiden

sumber gambar
Kalau kita makan, kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan. Kalau kita memilih makan nasi uduk, itu kita perhitungkan kita membelinya di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya. Kalau nasinya ada krikilnya kita protes, dan kita punya pengetahuan apakah nasi ini beracun atau tidak, basi atau tidak. 
Setiap pilihan resikonya adalah harus disertai kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang kita pilih. Di situlah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikit pun ada kesanggupan untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.
Bahkan lebih dari itu, bukan hanya tidak sanggup mengontrol, kita bahkan tidak punya pengetahuan yang mencukupi sama sekali mengenai sesuatu yang kita pilih. Kita tidak tahu sebenarnya caleg ini kualitasnya bagaimana, hidupnya bagaimana, istrinya berapa, akhlaknya bagaimana, kita tidak tahu sama sekali. Bahkan tokoh-tokoh terkenal pun rakyat tidak tahu. Bapak ini, Gus itu, orang nggak tahu sebenarnya. Dan kalau pun mereka tahu, mereka tak punya daya kontrol terhadap yang dipilihnya ini, tapi mau tak mau harus memilih. Ini saya kira dilema kita bersama se-Indonesia.
Jadi, sederhana saja sebenarnya. Kalau anakmu naik kapal merantau ke luar pulau, maka selama naik kapal akan ada kemungkinan ada badai, ada kemungkinan dibunuh orang, ada kemungkinan dia bertengkar dengan orang, ada kemungkinan dia di ancam bahaya. Kepada siapakah Engkau menyerahkan anakmu yang Engkau tak bisa mengontrolnya di perjalanan, kepada siapa? Kamu titipkan pak Camat? Kamu titipkan nahkoda? Tidak ada jalan lain kecuali Engkau titipkan pada Allah SWT. Kalau yang kau pilih di pemilu nanti kau tidak tahu siapa dia, kamu tidak bisa mengontrol dia, kenapa tidak kau serahkan pada Tuhan? Jadi serahkan pada Tuhan.
Kalau dalam Islam sederhana. Kalau misal anda tidak memilih, kalau nanti anda berdoa supaya bangsa kita sejahtera nanti Tuhan mengejek juga “Lha kamu nggak milih aja kok minta bangsamu sejahtera”. Tapi kalau memilih bingung juga mau memilih yang mana, sedangkan kalau memilih tidak bisa mengontrol juga. Ya kalau begitu serahkan pada Tuhan.
Kalau dalam Islam caranya jelas. Jadi malamnya shalat dulu kek, kalau nggak sempat ya dalam hati saja berdoa, “Ya Tuhan, gimana mosok saya nggak nyoblos, saya kan warga negara. Saya pilih lah yang kira-kira paling bagus. Cuma kan saya ndak bisa mengontrol dia, Tuhan. Jadi, tolong dong, ini saya pilih satu. Setelah saya pilih dan coblos, saya serahkan kepada-Mu. Kalau dia pemimpin yang baik, panjangkan umurnya. Beri dia kekuatan, dan bantulah urusan-urusannya. Tapi kalau yang aku pilih ini ternyata pengkhianat, penjilat, penindas rakyat dan sama sekali tidak punya cinta kepada kami-kami yang di bawah ini,mbok dilaknat dengan cepat, mbok cepat-cepat diberi tindakan, Tuhan. Terlalu lama lho kami rakyat Indonesia kayak gini terus bingung nggak habis-habis. Terus kepada siapa dong aku mengeluh? Kepada siapa dong rakyat Indonesia mengeluh? Kepada DPR? Wong mereka itu yang justru kami keluhkan kepada-Mu ya Allah. Jadi tolong, Tuhan….”
Bisa juga ditambahi ayat-ayat. Sebelum masuk kotak atau bilik bilang di dalam hati, begitu mau mencoblos baca “Wa makaruu wa makarallah wa-llahu khoirul maakirin”. Kalau mereka makar pada nilai-nilai Allah dan nilai rakyat, maka Allah akan makar pada mereka. Dan yang paling jagoan untuk makar adalah Allah. Kalau mereka khianat pada rakyat, berarti mereka khianat pada Tuhan. Maka Tuhan juga akan makar pada mereka. Wa-llahu khoirul maakirin. Jejak bumi tiga kali, baru dicoblos. Nanti kalau dia khianat, dia sakit kudis.
Dokumentasi Progress

“Asupan Gizi” Cak Nun buat Timnas U-19

“Asupan Gizi” Cak Nun buat Timnas U-19
Sebuah peristiwa sederhana tapi penting bagi masa depan Indonesia semalam, Selasa 25 Maret 2014, berlangsung di Hotel UNY Karangmalang Yogyakarta. Pelatih Indra Syafri dan skuad Timnas U-19 berkesempatan berdialog dengan Cak Nun. Dalam konteks keindonesiaan, Cak Nun adalah sosok yang sedari dulu dan hingga kini tetap konsisten mengerjakan kesadaran akan kebesaran dan kebangkitan bangsa Indonesia melalui pelbagai forum kerakyatan maupun melalui formula-formula problem solving yang ditempuhnya ketika diminta bantuannya dalam memecahkan persoalan-pesoalan riil yang berlangsung di masyarakat, seperti yang belakangan dilakukannya dalam mendamaikan konflik sosial terkait petambak Plasma di Tulangbawang Lampung. Sementara itu, di tengah keluhan akan kikisnya nasionalisme Indonesia belakangan ini, serta di tengah karut marut dan minimnya prestasi sepak bola Indonesia, Timnas U-19 besutan Indra Syafri memberi harapan baru bagi kebangkitan Indonesia melalui sepakbola.
Coach Indra Syafri sendiri sudah lama berharap dapat bertemu Cak Nun agar berkenan memberikan motivasi bagi Evan Dimas dan kawan-kawan. Maka usai ramah tamah yang juga dihadiri Ketua Umum PSSI DJohar Arifin itu, Cak Nun diminta menyampaikan motivasi bagi skuad Timnas U-19 yang baru saja selesai melakoni Tur Nusantara ini. Bagi Cak Nun sendiri sepakbola bukan hal yang asing dan sudah menjadi bagian dari pengalaman hidupnya. Saat usia belasan tahun, ia sudah menjadi pemain “bon-bonan” di beberapa persatuan sepakbola di Jombang. Ketika produktif sebagai kolumnis di media massa, salah satu yang langganan diulasnya adalah sepakbola, yaitu ketika berlangsung Piala Dunia atau Piala Eropa di mana ulasan liar ala Cak Nun ini sangat ditunggu-tunggu pecinta sepakbola di Indonesia.
Cak Nun bersama Timnas U19. Foto 2.
Kepada pasukan timnas U-19 ini, Cak Nun menyampaikan kepada mereka bahwa ada lima kemenangan yang dijanjikan kepada mereka. Tiga di antaranya adalah kemenangan secara pengalaman karena mendapat tempaan dari pelatih dan manajemen; kemenangan karena menjadi manusia terpilih dari ribuan putra daerah yang ikut seleksi; dan kemenangan perbaikan nasib dan rizki seluruh keluarga karena hasil baktinya kepada negara. Merespons suntikan motivasi dari Cak Nun ini, Coach Indra Syafri sangat antusias bahkan beberapa kali mencoba meminta anak-anak asuhnya untuk menuturkan pengalaman keberhasilan yang sejauh ini sudah diraih termasuk ketika berhasil mencetak gol, tetapi dengan rendah hati dan agak malu-malu mereka menjawab bahwa itu adalah kerja tim dan bukan kerja perseorangan.
Coach Indra Syafri juga menceritakan bahwa anak-anak Timnas U-19 ini akan menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci, dan untuk ini Cak Nun berpesan agar ketika sudah tiba di sana dan mulai mengenakan pakaian ikhrom agar diawali dengan shalat dua rakaat terlebih dahulu baru kemudian memulai prosesi umrohnya. Kemudian ketika tiba saatnya thawaf agar sesudahnya menyempatkan diri naik dan shalat, dan selanjutnya mengambil al-Quran, memejamkan mata, baca bismillah, lalu buka al-Quran-nya. Setelah membuka mata, catatlah surat dan ayat apa yang terbuka, dan simpanlah. Ketika tiba di tanah air, carilah tafsirnya, InsyaAllah di situlah terletak kunci hidup masing-masing person. Hal ini pulalah yang dulu dilakukan Cak Nun ketika ibadah umroh di Tanah Suci dan selalu surat al-Kahfi yang didapatnya ketika membuka al-Quran di pelbagai tempat di sana. Bahkan jika memungkinkan, Cak Nun berpesan kepada mereka agar sepulang umrah dapat berkumpul lagi seperti pertemuan malam itu untuk bersama-sama mengulas apa yang mereka dapatkan dari umroh tersebut.
Cak Nun bersama Timnas U19. Foto 1.
Malam itu Cak Nun datang ke hotel UNY bersama Ibu Novia Kolopaking, Sabrang “Noe Letto”, dan kedua putranya yaitu Jembar dan Rampak. Dalam dialog yang penuh suasana kekeluargaan itu, tercetus gagasan bahwa lagu “Hati Garuda” karya Noe Letto akan menjadi salah satu lagu wajib yang didengarkan ketika Timnas bergerak dari hotel menuju stadion selain lagu yang diciptakan suporter setia Timnas berjudul “Satu Jiwa” dan juga tentunya lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.
Dalam dialog itu pula, salah satu tim pelatih menanyakan lebih jauh saran Cak Nun agar anak-anak Timnas selalu konsentrasi dan fokus yakni fokus untuk apa dan seperti apa, Cak Nun menceritakan bagaimana dirinya banyak dijegal dan dikecewakan oleh Indonesia, tetapi Cak Nun tetap fokus dengan membalasnya dengan ilmu dan cinta kepada Indonesia dan masyarakat. “Jadi sesinis apapun tanggapan persatuan-persatuan sepakbola lain yang “iri” dengan keberadaan dan kesuksesan sepak terjang Timnas U-19 sejauh ini, tetaplah menendang bola dan jadi juara.” Itulah sejumput jalan sunyi yang ditularkan Cak Nun kepada Timnas U-19 dalam pertemuan sederhana malam itu di tengah hiruk pikuk politik Indonesia yang lebih banyak diwarnai hasrat akan kuasa dan kekuasaan dan bukannya kehendak bersama membangun sejatinya politik yang bermartabat.(Helmi M/Red Progress)