Latest Updates

Reportase Mizan Eksekutif Forum: Menata Hati dan Pikiran Bersama Cak Nun

sumber gambar
Mizan bukan nama yang asing lagi dalam kancah industri buku Nasional. Penerbit yang berkantor pusat di Bandung itu, telah banyak diketahui sebagai salah satu penerbit yang rajin memproduksi buku-buku bertema Islam. Selain kegiatan penerbitan, lembaga itu juga memiliki sebuah forum diskusi rutin yang digelar di kantor redaksi Mizan, Jalan Cinambo No. 135, bernama Mizan Eksekutif Forum. Sebuah wahana yang bertujuan memberikan pencerahan dan juga ilmu dari berbagai macam disiplin. Tanggal 7 Februari kemarin, secara resmi Cak Nun diundang sebagai narasumber tunggal pada forum tersebut.
Diskusi dengan Cak Nun, dibuka dengan ajakan untuk merenungkan sisa usia dalam menata harapan untuk hidup yang lebih baik, termasuk dalam kaitan dengan masa depan Indonesia. Hari-hari yang berjalan gaduh menjelang pemilu 2014, riuh-rendah kebisingan politik dan kecemasan-kecemasan yang menyusup di ranah sosial tentang bagaimana nasib Indonesia, jangan sampai menjadikan generasi muda keliru dalam meletakkan konsentrasi. Pada topik ini, Cak Nun menegaskan tentang perlunya membenahi cara berpikir terhadap fenomena apapun, supaya lebih jernih meneropong persoalan. Baik itu perkara yang berkenaan dengan pribadi, sosial hingga soal kenegaraan. Memupuk semangat untuk terus mencari solusi-solusi baru atas setiap masalah dan tidak berhenti dengan pengetahuan-pengetahuan yang masih bersifat pakem. Mengedepankan kemandirian berpikir, dengan tidak asal ikut pada kesimpulan-kesimpulan konvensional, yang belum tentu benar. Proses pengolahan nalar berkesinambungan untuk menemukan kebenaran dan ilmu yang lebih segar, harus terus dipacu.


“Jadi anda harus menjadi manusia yang mujtahid. Ittiba boleh, ngikut boleh, tapi anda harus paham persis apa yang harus anda ikuti. Nah, yang terjadi sekarang kan taklid mbak. Satu ngetut (mengikuti-jawa-red) ini, semua ngetut ini. Yang satu nuduh itu, sedang lainnya nuduh itu. Manut grubyuk (membebek buta) kalau bahasa jawanya. Atau seperti peribahasa rubuh-rubuh gedang (roboh beruntun layaknya pohon pisang)”.

Cak Nun mencontohkan, bagaimana fenomena rokok di Indonesia telah menjadi tema yang terus-menerus dituding negatif. Iklan-iklan korporat swasta maupun pemerintah rajin menulis tentang bahayanya, bahkan belakangan kian lantang dengan meneriakkan kalimat “Merokok Membunuh Anda”. Padahal apabila digali lebih dalam, rokok bukan satu-satunya bahan yang membuat orang dijelang kematian. Segala hal yang di dunia ini berpeluang untuk menyebabkan kematian itu. Dari asap kendaraan, polusi pabrik, hingga konsumsi gula. Hal yang kerap dijadikan fokus bahasan, justru pada produknya, buka cara menggunakan produk itu. Apakah sesuai dengan taraf kewajaran bagi tubuh atau tidak. Jika kemudian rokok mengemuka menjadi persoalan besar kesehatan tubuh manusia, tentu harus diteliti kembali apa motif dibalik kampanye besar-besaran tersebut.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa ahlul hisap (perokok-red) itu karena komitmen kepada produk yang ditindas, buktinya sekarang saya ndak merokok selama masuk Mizan ndak masalah. Jadi saya ndak merokok itu ndak masalah. Apa saja, asal anda tidak maniak itu anda tidak masalah. Kalau anda berlebihan itu jadi masalah. Jadi yang membunuh bukan hanya rokok, tapi nasi juga membunuhmu, apa saja bisa membunuhmu. Cintapun bisa membunuhmu. Kalau kamu ingin tidak mati, hanya satu caranya, jangan hidup. Jadi, saya kasihan sama rokok. Lha wong knalpot saja ndak dikasih peringatan, polusi pabrik ndak dikasih peringatan dan tidak dibilang membunuh. Tapi rokok dibilang membunuh. Atau gula, sudah jelas banyak orang sakit gula, berjuta-juta tapi gulanya tidak diapa-apain. Jadi ada diskriminasi yang luar biasa”. Kemudian Cak Nun melanjutkan, “Ini bukan soal rokoknya. Maksud saya ini supaya kita tidak berhenti pada pengetahuan-pengetahuan pakem saja. Anda harus tetap mencari terus. Anda harus berijtihad terus. Karena dalam islam kan cuma 3, ijtihad, ittiba, taklid”.

Bahasan mengenai rokok tersebut dilengkapi dengan pengalaman Cak Nun yang pernah didatangi oleh rombongan peneliti kretek. Pada satu kesempatan, di Jogja, berkumpullah orang-orang yang memiliki hasil penelitian akademis-ilmiah mengenai rokok kretek. Hasil riset itu menyebut, bahwa rokok kretek itu sebetulnya bukan konsumsi layaknya makanan. Namun lebih merupakan solusi pengobatan untuk penyakit-penyakit yang menyangkut tenggorokan dan nafas. Penemuan mengenai kesimpulan itu terjadi pada tahun 1963.

“Tapi syaratnya, tembakau itu harus dengan cengkeh. Lalu minuman kopi dijadikan sebagai aktivatornya. Harus ada kopinya. Kalo merokok cengkeh, eh, kretek dipadu dengan teh nanti makin sakit. Anda sakit. Tapi kalo dengan kopi anda menjadi plus”.

Konsentrasi kepada Allah
Lebih jauh Cak Nun mengajak hadirin diskusi sore itu, untuk membenahi sikap dengan kembali serius meletakkan Allah sebagai konsentrasi utamanya. Saat melakukan kegiatan apapun tujuan primernya adalah Allah, bukan yang lain. Dimasa kini, banyak yang tergelincir dan keliru fokus, sehingga hubungan dengan Allah tertutupi oleh hadirnya pihak lain. Ustadz, kyai, organisasi keagamaan, imam-imam masjid, pimpinan politik, hadir lebih dominan sebagai pihak yang dijadikan fokus tendensi kepatuhan umat. Akibatnya, Allah kerapkali menjadi pihak yang tidak lagi ada sebagai tujuan pokok dalam beraktifitas apapun.

Topik tersebut mengalir pada sebuah pengalaman, ketika tahun 1990 Cak Nun diminta oleh Habibie untuk bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Tawaran tersebut dilontarkan Habibie kepada Cak Nun dalam sebuah perjalanan di atas pesawat yang ia sewa. Cak Nun memang sedang jadi sorotan karena tulisan-tulisannya yang tajam di media, demikian pula dengan ceramahnya yang kritis pada berbagai kesempatan. Setelah melakukan pembicaraan, Cak Nun pun bergabung. Meski tak lama kemudian, lahir ketidaksepakatan-ketidaksepakatan yang mengubah sikap Cak Nun terhadap ICMI, sehingga membuatnya memutuskan untuk mundur. Salah satu peristiwa menggelitik yang dialami Cak Nun ketika menjadi pengurus ICMI yang cuma sebentar itu, adalah perihal sebuah pasal dalam aturan organisasi.

“Disitu ada pengumuman, bahwa semua pengurus pusat ICMI diwajibkan untuk sholat. Saya menolak. Yang boleh mewajibkan saya — apapun itu — hanya Allah. Kalau ICMI mewajibkan saya untuk sholat, itu membuat sholat saya tidak khusyuk. Kalau saya sholat kepada Allah, dunia harus tidak ada. Tidak boleh terhalangi oleh ada Aa Gym, tidak boleh ada Uje, tidak boleh tertutupi MUI, tidak boleh terhalangi Indonesia. Antara aku dengan Allah tidak boleh ada hijab. Dan selama ini, seluruh insitusi islam itu nutupi seluruh hubunganmu dengan Allah. Betul ndak?” hentak Cak Nun dengan retorika yang cerdas. Hadirin meresponnya lewat senyum. Beberapa diantaranya mengangguk-anggukan kepala.

Titik berat penataan konsentrasi kepada Allah ini, muaranya adalah menemukan Allah dalam tiap rinci kehidupan. Sebab prinsipnya, pada keadaan apapun manusia mesti menemukan Allah. Sebab itulah tujuan utamanya. Dengan akalnya, manusia mengolah metode-metode, menjabar cara-cara untuk bertemu dengan Allah. Melukar misteri hidup dan penelahaan jatidiri agar memahami Allah dari segala aspek. Jika manusia telah menemukan Allah, maka cara apapun menjadi tidak penting. “Untuk tujuan itu”, ulas Cak Nun, “manusia tinggal memilih latar belakang kebudayaan masing-masing, untuk dijadikan alat telaah menemukan Allah”.

“Mau dari kebudayaan Sunda, kebudayaan Jawa, kebudayaan Arab, Yunani, atau dari mana saja anda bisa sampai ke Allah. Bisa dengan Asmaul Husna, bisa dengan struktur 25 rasul, bisa melalui apa saja. Atau yang kecil saja. Anda bisa memakai konsep empat sahabat untuk memahami diri dan hidup, agar menemukan Allah. Apakah engkau punya kecenderungan Abu Bakar, apakah engkau Umar, apakah engkau ini Usman, ataukan engkau ini Ali. Temukan dirimu siapa. Atau engkau kadang-kadang Umar, kadang-kadang Abu Bakar, kadang-kadang Usman, kadang-kadang Ali. Ndak apa-apa. Orang punya kecenderungan bisa punya variabel yang campur-campur. Tapi yang panting, kalau mengalami apapun, harus bisa sampai ke Allah. Untuk apa makan kenyang enak, tapi tidak sampai ke Allah? Sebab, jika ujung segala urusan adalah hanya sampai ke Allah, tidak penting lagi apakah makanan itu enak atau tidak enak. Dengan menghadirkan Allah disetiap detak jantungmu, maka segala sesuatu akan menjadi ringan” lanjut Cak Nun, disambut dengan tepukan tangan hadirin.

Hari semakin sore, tapi suasana dalam ruang diskusi itu kian hangat dengan paparan Cak Nun yang diselingi lontaran-lontaran jenaka. Melalui kalimat-kalimat yang tangkas dan lancar, Cak Nun menggugah semangat hadirin untuk tidak meratap-ratapi kesulitan hidup. Melawan tiap penderitaan yang menimpa dengan membenahi orientasi, bahwa penderitaan yang dialami itu tidak lebih hanyalah kendaraan untuk menuju Allah. Tendensi apapun selain Allah mesti diletakkan sebagai akibat dari kekuatan cinta terhadap Allah. Termasuk dengan soal surga dan neraka. Keduanya harus diposisikan sebagai akibat dari kualitas hubungan manusia terhadap Allah, bukan tujuan utama.

“Makanya anda jangan tertipu oleh surga atau neraka. Karena Allah memang sengaja membuat ranjau-ranjau, membuat jebakan-jebakan, dengan membuat iming-iming kepada manusia tentang surga. Jika anda jatuh cinta kepada surga, lalu bersusah payah mencarinya, Tuhan akan bilang, “lha kamu ternyata mencari surga, kamu ndak nyari Saya tho?” Hampir semua ustadz ngomong masuk surga masuk atau masuk neraka. Allahnya jadi hilang. Jadi anda jangan tertipu oleh surga, juga oleh neraka. Menurut anda, kalau anda mencari surga, apakah pasti mendapat surga? Yang pasti, anda bisa dapat surga itu kalau anda cari siapa? Cari Allah. Makanya ngapain kamu cari yang selain Allah. Kalau anda cari Allah, dunia akhirat pun dapat semua. Surga pasti dapat. Tapi kalau anda cari surga, belum tentu dapat surga, tapi sudah pasti kehilangan Allah. Jadi kenapa kamu kepincut dengan semua ini?”

Sholat, Sholawat dan Cinta Segitiga
Ditengah suasana yang kian akrab, Cak Nun melanjutkan bahasan yang kian menarik perhatian hadirin. Topik mengenai makna sholat dan shalawat, yang selama ini lepas dari perharian umum. Terdapat banyak hal yang diperintahkan Allah kepada manusia, tanpa Allah sendiri melakukannya. Contohnya adalah perintah untuk mendirikan sholat. Tapi ada satu perkara yang diperintahkan Allah supaya dilakukan hambaNya, dan Allah sendiri juga melakukannya. Kegiatan tersebut adalah Sholawat.

Sebagai awalan, Cak Nun menjabar mengenai penerjemahan istilah “shollu” yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan dua versi yaitu sholat dan sholawat. Dalam sebuah hadits populer yang jika ditulis dengan aksara latin berbunyi, “shollu kama roaitumuni ushalli”. Dalam hadits itu, istilah “shollu” bahasa Indonesia menerjemahkannya dengan kata sholat. Sedangkan dalam surat Al Ahzab ayat 56, istilah “shollu” yang muncul disana diterjemahkan sebagai sholawat, dan pada beberapa terjemahan juga ditafsir sebagai pujian. Kutipan surat Al Ahzab bila ditulis latin berbunyi sebagai berikut: “Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alannabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa salamu taslima”. Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

Cak Nun telah lama melihat perbedaan translasi ini. Karena terjemahan yang tidak disertai penjelasan terpadu dan rinci, sedikit banyak berpengaruh terhadap pemahaman umat mengenai konsep sholat dan shalwat.

“Saya biarkan hal ini berlangsung 20 tahun berlangsung. Sekarang baru mau saya tembus sedikit. Yang saya pertanyakan dari kalimat tadi, apa pekerjaan yang Allah perintahkan dan Allah sendiri lakukan? Sholawat bener? Pertanyaannya, dimana bunyinya Allah bershalawat kepada nabi? Apa wujudnya shalawat kepada Muhammad tersebut? Kalau yang disebut sholawat itu adalah bunyi “Allahuma sholli wa salim ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad” kan gitu.. terus Allah ucapannya apa? Kenapa “shallu kama roaitumuni ushalli” diterjemahkan dengan “sholatlah sebagai mana engkau melihat aku sholat”. Sedang kata “shollu” pada ayat Innallaha wa malaikatahu yusholluna ‘alannabi diterjemahkan dengan kata bersholawat. Lantas, apa perbedaan sholat dan shalawat?” Pertanyaan tersebut menggelitik pikiran para hadirin yang jarang mengikuti loncatan pemikiran Cak Nun.

“Jangan-jangan ini ketidakmampuan saja untuk memahami. Akhirnya dikamuflase dalam translasi Indonesia, yang satu diterjemahkan sholat, sedang yang lain diterjemahkan shalawat. Pada dasarnya makna sholat dan shalawat sama saja. Namun ternyata yang keliru adalah pengertian kita mengenai sholat itu sendiri. Orang dipatok oleh pemahaman materil bahwa sholat itu terbatas pada kegiatan yang diawali oleh takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Meninggalkan pemahaman esensial, bahwa sholat (juga sholawat – red) adalah juga kegiatan tentang komitmen cinta.

“Sholatnya manusia kepada Allah itu diberi formula oleh Allah sendiri melalui Muhammad sehingga bunyinya “shollu kama roaitumuni ushalli”. Maka orang sholat allahu akbar, samiallahuliman hamidah dan seterusnya. Itu salah satu bentuk sholat yang posisinya manusia kepada Allah. Sholatnya Allah ke kita bukan bentuk sebagaimana kita kepada Allah, sholatnya Allah kepada kita adalah cinta dan kasih sayang. Karena urusannya bukan jasad (esensial — red), tapi soal komitmen cinta. Begitu juga Muhammad ke kita, kita ke Muhammad. Muhammad ke Allah, Allah ke Muhammad. Allah ke kita, kita ke Allah. Kalau dalam Maiyah disebut Cinta Segitiga itu. Nah ini contoh kecil aja daripada mikirin Indonesia 2014, ini saja direnungkan agar bisa tenang dan beres”.

Sebelum diskusi berakhir, beberapa hadirin dipersilahkan untuk melontarkan pertanyaan. Baik mengenai kecenderungan cara beragama yang kontroversial di khalayak hingga tentang bagaimana menuntaskan masalah-masalah di Indonesia. Acara diskusi yang diselenggerakan oleh Mizan itu berakhir menjelang senja. Setelah ritual doa bersama Cak Nun masih sempat menyelipkan pesan kepada penyelenggara dan hadirin di diskusi itu. “Saya mohon ijin untuk mengatakan, kalau memang kita bisa sebulan sekali, kalau Allah mengijinkan berarti kita sudah dikasih petunjuk sekarang. Acara kita tidak hanya dialog intelektual dan kultural tapi ternyata harus ada kebersamaan spiritual sehingga diperlukan ada menit-manit atau waktu tertentu dalam acara itu yang maksudnya adalah spiritual. Itu jadi lebih bagus. Intelektual, kultural, spiritual. Itulah pedoman Maiyah Mizaniah” 

Raja, Ratu dan Buto

sumber gambar
Adakah di antara Anda yang merasakan, menyadari atau setidaknya mengasumsikan bahwa Marilah sesekali berpikir jernih dan tolong kerahkan akal pikiran serta segala spektrum keilmuan Anda — untuk menjawab pertanyaan: apakah di penghujung abad 20 ini masih ada raja, ratu, atau buto? banyak hal yang sedang menjadi pengalaman kolektif masyarakat kita dewasa ini — diam-diam ada kaitannya dengan idiom-idiom ‘raja’, ‘ratu’ dan ‘buto’? 
Kalau kita berpikir formal, tak ada raja, apalagi ratu. Tapi kalau berpikir substansial atau essensial: kita-kita ini adalah raja, adalah ratu, juga adalah buto.
Kita mungkin raja atas bawahan-bawahan kita. Kita raja di rumah, di lingkungan kantor, atau mungkin di mana saja kita berada. Sekurang-kurangnya kita secara alamiah (dan diperkembangkan oleh tradisi pengalaman sosial) memiliki potensialitas untuk cenderung menjadi ‘raja’, yang sadar atau tak sadar, kita terapkan di setiap kosmos keterlibatan sosial kita.
Kita cenderung merajai rumahtangga kita, merajai lingkungan pergaulan kita, merajai segala aset di sekitar kita. Apalagi jika kita dibesarkan oleh suatu lingkungan yang atmosfer perhubungan antar-manusianya bersifat feodalistik — di mana orang hanya memiliki dua kemungkinan: kalau di atas, menginjak; kalau di bawah, menjilat atau mengemis.
Yang terbaik tentulah jika kita sanggup menjadi raja atas diri kita sendiri. Kita menjadi raja atas segala urusan hidup kita. Kita menjadi raja yang demokratis dan pensyukur atas segala kebaikan diri kita, kita menjadi raja yang diktator atas segala keburukan diri kita.
Tetapi apa beda antara ‘raja’ dengan ‘ratu’ sesungguhnya? Sehingga tulisan ini berjudul demikian? Kalau membedakan antara raja dan ratu dengan buto, masih relatif agak gampang.
Buto, atau raksasa, tak pernah ada dalam kehidupan manusia, di bagian manapun dari sejarah peradabannya. Buto atau raksasa hanyalah personifikasi dari salah satu watak gelap manusia yang  berpotensi antikemanusiaan, antikebaikan, antikehalusan.
Rahwana digambarkan berbadan dan berwajah raksasa, karena ia lambang kejahatan. Meskipun demikian, menurut masyarakat Srilanka, Rahwana bisa menjadi pahlawan yang ganteng. Justru Prabu Rama itu imperialis, fasis, kolonialis, yang lebih tepat untuk digambarkan berwajah buto.
Sebagaimana orang Blambangan dan Banyuwangi tidak mengakui gambaran Menakjinggo yang oleh ‘sejarah versi Majapahit’ digambarkan sebagai buto yang buruk wajah maupun kelakuannya. Bagi mereka, justru raja-raja Majapahit yang raksasa, yang menindas, yang menampakkan kehendak.
Adapun Menakjinggo adalah pahlawan, nasionalis Blambangan sejati, pejuang demokrasi, otonomi dan kemandirian Blambangan atas imperialisme Majapahit.
Sunan Kalijaga mencoba merombak konsep paralelitas antara gambaran fisik dengan watak, moral atau perilaku. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah seburuk-buruk makhluk jika dipandang dari sudut performa. Tapi nurani mereka, moral mereka, kasih sayang kemanusiaan mereka, pembelaan kerakyatan mereka, tak ada yang menandingi.
Adapun bagaimanakah filosofi dan konsep budaya manusia modern kayak kita sekarang ini? Apakah kesopanan seseorang, kenecisan penampilan seseorang, kostum seseorang, identik dengan realitas per moralnya? Masihkah kita boleh terjebak oleh surban, oleh performan kepriyayian, oleh peci, oleh gelar kiai, bahkan oleh status kehajian seseorang?
Tetapi jangan mentang-mentang performa kekiaian atau kepriyayian tidak menjamin moral dan perilaku sosial, lantas kita memitologisasikan performa yang lain: bahwa yang baik pasti yang tidak pakai peci, pasti yang tidak bersurban dan tak bergelar kiai. Mentang-mentang banyak penipu pakai sepatu dan dasi, lantas kita anggap yang pakai sendal dan kaos oblong pasti baik. Kita tetap harus obyektif dan sanggup menemukan relativitas dari simbol yang manapun. Relativisme kultur harus diterapkan pada semua gejala lambang.
Kalau warna hijau, umpamanya, dilegalisir secara kultural untuk menyebut kelompok ‘beragama’, kita tidak lantas memastikan bahwa produk perilaku kelompok ini tentu berkualitas kiai dan priyayi, tentu bermoral dan selalu berada di pihak yang benar. Sebab bisa saja dari kaum hijau justru muncul rekayasa dan perilaku ala buto atau raksasa yang menabrak apa saja dengan kasar, yang meringkus apa saja dengan brutal, yang melegalisir ‘kudeta‘ ini dan itu, mendongkel dadap dan waru, yang menggoyang dan menjatuhkan fulan dan polan. Artinya, dalam hidup ini terutama dalam dunia gawat yang bernama politik: sangat mungkin terjadi priyayi berperilaku buto, kiai bergerak secara raksasa.
Sebaliknya, dengan itu semua kita tidak lantas terjebak pada fenomena antitesis yang juga kita dramatisir dan kita mitologisasikan. Misalnya bahwa kita langsung menganggap bahwa yang non-hijau pasti yang benar, yang sopan, yang bermoral, yang pro-demokrasi.
Kita sungguh-sungguh memerlukan kejernihan akal, hati yang sejuk dan jiwa yang selapang-lapangnya, untuk mempersepsikan segala sesuatu yang hari-hari ini kita baca di  koran-koran dan kita tonton di teve dan kita dengar di radio maupun di warung-warung.
Atau jangan lupa bisa juga ada raja yang benar-benar raja atau ratu yang benar-benar ratu, namun ia dikelilingi oleh buto-buto. Segala akses informasi yang diterima oleh telinga sang raja berasal dari buto-buto. Kepada raja dikatakan “Paduka, mereka sudah tak suka sama si Waru, jadi sangat dibutuhkan pergantian”. Dan kepada ‘mereka’ dikatakan: “He anak-anak, Paduka sudah tidak berkenan lagi sama si Waru, jadi segera bikin kumpul untuk penggantian….”
Termasuk jangan lupa bahwa sesungguhnya para buto tidak senantiasa merupakan makhluk yang benar-benar buto. Para priyayi, priyagung, kiai, atau apapun, yang penuh sopan santun, yang tampak bermoral dan khusyu — bisa pada momentum tertentu terpaksa menjadi buto, untuk kepentingan tertentu yang harus dilaksanakan secepat-cepatnya.
Oleh karena itu jika Anda sudah menjadi Ratu, pada saat yang diperlukan bersikaplah segera menjadi Raja. Raja itu jelas kehendaknya, dhawuhnya, perintahnya, rancangannya. Kalau Ratu, cenderung diam karena anggun dan penuh wibawa.
Ratu lebih banyak senyum-senyum saja. Namun kemudian yang berlangsung di seluruh negeri  adalah interpretasi para buto tertentu atas senyum sang Ratu. Kalau interpretasi murni, masih lumayan. Tapi kalau interpretasi berdasar kepentingan para buto, susahlah semua rakyat.

Ketika Kita Berselisih Faham

sumber gambar
Kita semua, Saudaraku, seaqidah. Selalu bersatu dalam tauhidillah dan tak sebuah macam ‘marodhun fii quluubina’. Makhluk pun yang mampu memisahkan kesatuan kita itu kecuali kekeruhan rokhani kita sendiri:  Tapi mungkin kita tak sefaham. Tak sepengertian pemikiran. Tak sependapat. Tak seanutan. Saudaraku menganut ini dan aku menganut itu, sementara saudara kita yang lain barangkali suatu unikum tertentu dari kepribadiannya berdasarkan kodrat kelahiran dan mungkin latar belakang kebudayaannya. Kita kemudian saling bisa bermusyawarah, dan hasil musyawarah itu sebagian bisa kita putuskan menjadi suatu kesepakatan tunggal, tetapi sebagian yang lain mungkin harus kita biarkan berbeda-beda. Kita juga bisa saling menilai, saling mengkritik, bahkan saling menghakimi: tetapi yang terpenting harus kita ingat ialah tindak penghakiman itu selayaknyalah dilandasi oleh keinsyafan kita akan keterbatasan dan relativitas kemampuan kemakhlukan kita. Selebihnya keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa dan Maha Mampu untuk menyelenggarakan penilaian yang sehakiki-hakikinya.
Demikianlah, Saudaraku, bahwa mungkin saja kita tak sefaham, hal itu tidaklah perlu dirisaukan benar. Pertama, kata Pak Guru: seribu kepala punya seribu pendapat. Ketika Allah berfirman wa ja’alnaakum syu’uuban wa qobaa-ila, lita’aarofuu…., kukira yang dimaksud, Insya Allah, bukan sekedar perbedaan bangsa-bangsa dan suku-suku saja, melainkan lengkap dengan analoginya, dan konotasinya. Yakni bahwa disamping bangsa-bangsa dan suku-suku selalu memiliki unikum-unikum tersendiri yang membedakan alam hidup mereka, cara berpikir mereka atau kebiasaan psikologis tertentu mereka; juga tentulah ada pengertian yang lebih meluas, ada syu’uub dan qobaa-il pemikiran yang mencerminkan tipologi internalisasi keagamaan yang berbeda-beda. Dan diantara yang berbeda-beda itu dianjurkan untuk ta’aarofu, saling kenal-mengenal, saling mengerti, saling memberi ruang, saling toleran, sepanjang tak sampai menyangkut perbedaan prinsipil tentang aqidah. Sebagian dari perbedaan itu bisa kita runding untuk membawa kita ke kondisi ‘sepengertian’, tapi sebagian yang lain mungkin tidak. Kemudian kalau toh tetap juga timbul keruwetan dari proporsi yang demikian, toh kita masing-masing tetap bisa berserah diri kepadaNya, kaanal-ilahu bi-kulli syai-in ‘aliimaa. Ini sebab kedua kenapa perbedaan-perbedaan faham diantara kita tak selalu harus kita risaukan. Berulangkali aku mengatakan kepada saudaraku bahwa kita memang harus berusaha agar perbedaan diantara kita bisa menjadi seperti yang dikehendaki Allah, yakni menjadi rahmat, bukan malapetaka.
Namun betapa susahnya hal itu kita capai, Saudaraku, kita telah mengalami bersama. Kita ini bukan masyarakat musyawarah, tapi masyarakat konsensus. Bukan masyarakat diskusi, tapi masyarakat kompromi. Tentu saja tidak sepenuhnya demikian, tapi itulah frekuensi terbesar dari praktek komunikasi sosial kita. Kalau kita bermusyawarah, kita telorkan kebijaksanaan — itu seringkali berarti ‘tahu sama tahu’ yang tak jarang disifati kemungkaran-kemungkaran tertentu. Kita suka damai, tapi itu acapkali berarti kita mengkompromikan, atau menganggap klop apa yang sesungguhnya bertentangan. Kita menyogok dengan sejumlah uang untuk kelancaran suatu urusan, dan kita sebut itu perdamaian. Kita putuskan sesuatu yang tak bijaksana untuk rakyat banyak dan kita sebut ketidakbijaksanaan itu sebagai kebijaksanaan. Kita bisa menganggap kekejaman-kekejaman tertentu sebagai tindakan luhur yang menegakkan hukum dan harkat kemanusiaan. Kita membiasakan diri untuk sedemikian luwes dan retoris untuk mendorong diri beranggapan, bahwa sesuatu hal itu ma’ruf, bukan mungkar. Dalam praktek urusan kenegaraan dan kemasyarakatan seringkali kita menjumpai kenyataan seperti itu.
Kita tak membiasakan diri untuk melihat dan memahami perbedaan dalam proporsi yang wajar. Sistim politik negeri kita jelas mendorong suatu keadaan untuk ‘tunggal’ seperti kehendak Pemerintah. Mafhumlah kita terhadap perilaku kaum establishment itu. Namun lebih menyedihkan hati jika dalam praktek kehidupan beragama kita juga menjumpai kecenderungan sikap otoriter yang secara sadar atau tak sadar cenderung memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Ummat sukar akan berangkat dewasa dalam iklim seperti itu. Tentulah Saudaraku tak usah memintaku untuk menyebut-nyebut contoh kongkrit itu, sebab kita sudah sama-sama mengetahui dan mangalami.
Aku meyakini sepenuhnya bahwa kecenderungan itu tidak muncul dari niatan sengaja untuk bersikap otoriter. Paling jauh itu adalah ungkapan naluri manusia untuk senantiasa mempertahankan diri. Diri harus selalu dipertahankan, termasuk semua keyakinan dan pengertian-pengertian pikirannya, sebab seseorang tak bisa hidup jika tidak dengan keyakinan dan pengertian pikirannya sendiri. Namun persoalannya bahwa ia tak harus ‘menyuruh’ semua orang untuk berpendapat seperti ia, dan hendaknya ia yakin juga bahwa tanpa seorang pun yang lain yang sependapat dengannya: ia tetap syah untuk menghidupi keyakinan dan pengertiannya. Saudaraku mengalami, terkadang ada saudara kita merasa ‘gugur’ gara-gara orang lain tak sependapat dengannya, lantas ‘gugur diri’nya itu memanifestasi liwat kata-katanya bahwa yang gugur seakan-akan adalah kebenaran Islam. Ia hanya bisa hidup dengan mengidentifikasikan dirinya dengan kebenaran Islam, sehingga siapa saja yang tak sependapat dengan dia, maka ia anggap melanggar Islam. Ia memperlakukan seolah-olah agama Islam hanyalah sebuah benda mati bagaikan seonggok batu yang ‘verbal’ dan miskin. Ia tidak menyediakan ruang dan tenaga untuk membayangkan bahwa pribadi-pribadi manusia yang berbeda-beda, kondisi kehidupan yang berbeda-beda, jika ditumbuhkan dengan Islam, maka ia akan memunculkan mozaik kekayaan-kekayaan yang tiada batasnya, bagaikan percikan dari kekayaan Allah yang tak bisa diperkirakan. Ia juga tak bersiap, karena itu, untuk bersikap tawadldlu’, rendah hati, sadar akan keterbatasan kita bersama, ditengah mozaik yang hanya sedikit saja mampu kita lihat dan rumuskan itu.
Kukira, Saudaraku, hakekat dari kesemuanya itu ialah kesadaran kita bersama, bahwa hidup kita ialah bergerak mengidentifikasi diri dengan kebenaran Islam. Akan tetapi sosok tubuh kebenaran diri kita tidaklah identik dengan sosok tubuh kebenaran kita. Sebab kebenaran Islam sangat luas dan besar, seluas alam semesta yang Ia ciptakan, dan kita sekedarbergabung kepadanya. Ya, kita yang amat kecil ini, hanya bergabung kepadanya. Mengolah pribadi kemusliman tidaklah berarti membangkitkan egosentrisism dimana seseorang menyerap ‘seluruh Islam’ dan ia menganggap diri persis dengan kebenaran Islam itu sepenuhnya. Itu suatu takabbur. Padahal  kita tidak lebih berarti dari dzarrah: jika kita dilahirkan untuk menjadi khalifah dimuka bumi, maka kekhalifahan itu mustilah dengan penuh tawadldlu’; kesadaran akan kefaqiran dihadapan Allah.
Hal ini, Saudaraku, persis dengan kenyataan bahwa tak seorangpun mampu  menguasai Al Qur’an. Paling jauh ia hanya menguasai penguasaaanya sendiri  atas Al Qur’an. Cakrawala Al Qur’an tak akan selesai ditempuh, jalah lurusnya tak bakal habis dikembarai. Segala yang mampu diucapkan oleh pikiran dan hati kita dari dan tentang Al Qur’an, hanyalah sebatas relativitas pengetahuan dan pengalaman pribadi kita, dan Al Qur’an tak bisa engkau hitung berapa kali lipat kekayaannya dibanding kekecilan kita yang sering sombong ini. Maka tak ada pilihan lain kecuali tawadldlu’. Dan memang itu yang terbaik.
Saudaraku, kita tak jarang mengalami betapa kita terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan ditengah perbedaan pendapat. Ini karena kita amat possesif terhadap pemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri. Bagai seorang perawan yang tak mau secuil pun lelaki pujaannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Kita begitu romatik, karena memang pada dasarnya kita begitu mencintai dan bahagia dengan Islam kita. Begitu rupa romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita jadi cepat tersinggung, cepat mangkel, cepat berang dan naik pitam jika sedikit saja hal tentang ‘pacar’ kita itu disentuh orang. Secara rasional kita menjadi tidak objektif. Dan secara spiritual-psikologis kita menjadi tidak dewasa, tidak rendah hati. Keduanya bergabung dan menghasilkan suatu sikap yang tak menyiapkan untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.
Dalam keadaan begitu kita tanpa sadar, sering melangkahi peringatan Allah, ijtanibuu katsiiron minazh zhonni, inna ba’dhodh zhonni istmun, walaa tajassasuu walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo. Kita sering cepat berburuk sangka, cepat cenderung mencari hanya kesalahan-kesalahan saudara kita ynag lain. Bahkan ada prototype mentalitas kita yang kurang biasa berbeda dalam berhadapan ini, mendorong kita mengungkapkan perbedaan itu dengan cara ‘yaghtab ba’dhukum ba’dhoo’. Dengan begitu akan gampang terjerumus pula kita untuk tergolong dalam kata-kata Allah ‘yashkor qoumun minqoumin’,  sedangkan bisa-bisa saja kaum yang dicerca itu yakuunuu khoiron minhum.
Lebih ‘lucu’ lagi, Saudaraku, didalam saling mencerca itu, masing-masing kita merasa benar, dan sungguh-sungguh dengan khusyu’ menyandarkan kebenaran masing-masing itu ke hadirat Allah, sehingga masing-masing meras innalloha ma’anna. Tidakkah, Saudaraku, engkau pernah menangkap dan merasakan getaran keadaan yang seperti itu ditengah perselisihan faham diantara kita semua? Bahkan ada Saudara kita yang dalam keadaan itu lantas saling mengemukakan kata-kata seperti yang diungkapkan Al Qur’an: …i’maluu ‘alaa makaanatikum innii ‘aamil, wantadhiru inni muntazhirun…, atau …lanaa a’malunaa wa lakum a’maalukum, salamun ‘alaikum laa nabtaghil-jaahilin… atau fanistakbaruu fal-ladziina ‘inda robbika yusabbihuuna bil lili wan-nahaari wa hum laa yas-amuun…, bahkan …idz ja’alalladziina kafaruu fii qulubihimul-hamiyyata hamiyyatal-jaahiliyati fa-anzalallahu sakinatahu ‘alaa rosuulihi wa ‘alal mukminina wa alzamahum kalimatat-taqwa.
Tentu saja, Saudaraku, itu benar. Dan mungkin saja memang diantara beribu pikiran kita atau diantara sikap-sikap hidup kita terdapat unsur kekufuran tertentu (seperti juga silau mata kita yang berlebihan terhadap keduniawian dewasa ini bisa dianggap meng-ilah-kan yang selain Allah); akan tetapi, tentu akan lebih afdhol, apabila kita mengusahakan suatu keterbukaan dan kedewasaan komunikasi, justru untuk membuka kedok kemungkina kekufuran pribadi kita masing-masing dan melenyapkannya. Saudaraku mungkin pernah mendengar aku beberapa kali mengalami berbagai perselisihan faham dengan berbagai kalangan Muslim dalam pentas-pentas atau pembicaraan-pembicaraanku diberbagai tempat, dan aku gagal menemui keinginanku akan keterbukaan dan kedewasaan komunikasi seperti itu. Aku sering berkata kepada saudara-saudara kita: “Jika Saudaraku melihat aku sesat, dan bersedia mengishlah membawaku kepada jalan yang benar, maka alangkah besar rasa syukurku”. Namun, aku justru sering menghadapi berbagai sikap tertutup seperti kuungkapkan diatas: sikap tertutup itu bukan karena Islam, tetapi karena faktor mentalitas, keterbatasan-keterbatasan psikologis. Sampai pada suatu saat aku berkata kepada diriku sendiri: Kalau saja aku ini seorang muallaf, maka dengan menghadapi sikap jumud seperti itu, tak mustahil aku terlempar kembali ke luar Islam. Namun, Alhamdulillah, justru karena itu maka Allah berkenan menganugerahiku tenaga untuk makin mencintai-Nya serta lebih dalam meyelami samudera nilai Islam yang demikian luas dan dalam.
Saudaraku tahu mungkin kemusliman kita ini belum apa-apa dan sungguh masih amat jauh dari yang dikehendaki Allah, karena itu betapa kita semua harus senantiasa siap terbuka atas nilai-nilai kebenaran Islam yang mungkin saja kemarin masih belum kita insyafi. Banyak hal kita ketahui, namun jauh lebih banyak lagi yang belum kita ketahui. Allah telah memaparkan segalanya, tapi barangkali mata kita masih cukup buta dan telinga kita masih agak tuli. Segala yang ‘kita kuasai’ itu pastilah sedzurroh saja dibanding realitas dan nilai yang sesungguhnya yang disediakan oleh Allah Yang Maha Kaya.
Kita semua adalah khalifah fil-ardh, tetapi engkau atau aku bukanlah satu-satunya khalifah. Dan aku kira tidak benarlah apabila kita mempunyai sikap seperti itu: seakan-akan kita adalah langsung mewakili Allah dimana setiap orang musti sependapat dengan kita, betapapun secara subjektif kita amat meyakini dan menganggap luhur keyakinan serta kebenaran pikiran kita sendiri itu. Saudaraku Insya Allah sudah membaca buku Dialog Sunnah Syi’ah: surat-menyurat antara ‘Kyai Sunnah’ asy-Syaikh al-Bisri al-maliki dengan ‘Ulama Jumhur’ as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-‘Amili itu amat memberi informasi berharga kepada kita tentang percaturan faham yang berbeda antara Sunnah yang mayoritas dan Syi’ah yang minoritas. Akan tetapi yang tak kalah bermaknanya dibanding informasi itu ialah bagamana cara dan watak mereka didalam berdialog. Bagaimana keterbukaan sikap pribadi mereka, seberapa kematangan dan kedewasaan yang menjadi ruh komunikasi antara mereka, betapa tawadhu’ dan rendah hati mereka, serta betapa besar gairah murni untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran: tanpa sikap defensif dalam arti emosional, tanpa menonjolkan ‘gengsi’ atau ‘harga diri’ pada proporsi yang tak wajar, atau tanpa etos ‘mempertahankan pendapat secara membabi- buta’ seperti yang sering menjadi watak dari dialog-dialog moderen dewasa ini, yang acapkali terkotak pada dimensi ‘intelektual’ belaka. Semua perwatakan dialog itu tentu saja merupakan ‘dimensi tersembunyi’ dibalik formalitas informasi yang dipaparkan oleh buku tersebut.
Demikianlah, Saudaraku, kita yang masih faqir ini semoga dibimbing oleh Allah untuk menumbuhkan kekayaan-kekayaan seperti itu. Kita Kaum Muslimin Insya Allah akan menyongsong kemenangan, tetapi itu tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai marodhun didalam diri kita sendiri. In dholaltu fainnamaa adhillu ‘alaa nafsii, wa-inihtadaitu fabimaa yuuniya ilayya robbil innahu samii’un qorlib.
Menturo Jombang, Agustus 1983.

Memukul dan Tidak Bermusuhan

sumber gambar
Bertinju di ring masih lumayan moralnya. Caknun.com - Mereka saling rela memukul dan dipukul karena suatu tekad profesional, aturannya jelas, berlangsung transparan, dan mereka bertinju tidak dalam rangka bermusuhan, membenci atau menguasai sebagai sesama manusia.
Ada pertinjuan yang lebih kejam dari itu, yakni mekanisme orang ditinju, dipukul, dan disakiti di berbagai bidang kehidupan tanpa orang itu rela disakiti dan tak punya kewajiban apa pun untuk disakiti.
Kalau kita berpikir kuantitatif, tinju hanya ada di ring tinju. Tapi dengan berpikir kualitatif kita bisa menemukan petinju di Istana Negara, di gedung parlemen, di kantor-kantor kementerian, Gubernur hingga Lurah. Sejauh ini rakyat hampir selalu kalah KO.

Kekasihku Orang Gila

Catatan dari Cak Nun yang sangat luar biasa. Sekarang dulur bisa membedakan. Saiap saja
bisa menjadi kekasih buat kita. Berikut catatan Cak Nun.
Tadi malam Allah menganugerahi saya rejeki yang luar biasa, yang membuat aliran darah saya menghangat, hati penuh kegembiraan dan kebanggaan, dan seandainya ketika itu saya sakit – saya yakin langsung menjadi sembuh.
Di Taman Ismail Marzuki Jakarta setiap orang kenal orang yang mengantarkan rejeki Allah ini. Seorang pemuda berusia sekitar 35 tahun, kumuh, berpenampilan gelandangan, tidur di sembarang tempat di komplek itu, sorot matanya menusuk ke dalam nurani. Setiap orang mengenalnya sebagai orang yang tidak lengkap, agak miring, minimal setiap orang normal cenderung tidak menganggapnya sebagai manusia sesama orang normal.
Dulu tatkala sebulan sekali saya beracara “Kenduri Cinta” di parkiran TIM, beliaunya ini selalu hadir. Di akhir acara selalu menemui saya dan dengan sangat menakutkan ia mencium tangan saya. Saya meletakkannya di tempat yang khusus di lubuk hati saya. Kemudian acara bulanan saya di Jakarta itu tidak menetap lagi di TIM melainkan keliling ke kampung-kampung Jakarta.
Ya Allah, beliau ini tiba-tiba menelpon saya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa ia kenal telpon. Tentu ia ternyata tahu wartel juga. Ya Allah, dia bercerita tentang demo di DPR dan situasi mutakhir di Jakarta. Ya Allah aku bangga menerima telpon dari seseorang yang setiap orang tidak menganggapnya sebagai sesama manusia dalam kehidupan yang wajar.
Tentu saja tidak bisa saya berkata begini: “Saya ditelpon oleh Menteri, oleh Presiden, oleh Sekjen PBB, tidak punya perasaan apa-apa dan tidak bangga sedikitpun. Tetapi saya ditelpon oleh beliau ini, ya Allah, hati saya berbinar-binar penuh kegembiraan dan kebanggaan”. Tidak bisa, wong memang tidak ada Menteri yang gila untuk repot-repot menelpon saya. Apalagi Presiden dan Sekjen PBB.
Kalimat seperti itu pernah juga muncul di hati saya ketika saya kenal kekasih gila yang lain. Kalau Anda pergi ke Jogja, jalanlah ke perempatan dekat jembatan rel kereta di sebelah barat kantor Samsat. Sekitar siang atau sore, insyaallah Anda akan berjumpa dengan kekasih Allah: pemuda kurus, hitam, menari-nari, melemparkan wajah penuh kegembiraan, melambaikan tangan kepada siapa saja yang lewat. Adakah orang bisa berpikir bahwa ada orang yang sehat jiwanya menari-nari di perempatan jalan?
Tetapi apakah kekasihku itu benar tidak sehat jiwanya? Apakah ia pernah korupsi? Apakah ia pernah menyakiti hati orang? Apakah ia pernah mencuri, mencopet atau menjambret? Bukankah berjam-jam ia berjoget-joget di jalan dengan penuh suka cita itu sesungguhnya berkata kepada orang-orang yang lewat yang kebetulan punya akal pikiran: “Kenapa engkau cemberut, uring-uringan dan berwajah duka? Kau punya mobil kan? Punya rumah kan? Lihatlah aku, tak punya apa-apa, tak punya rumah, tak punya pekerjaan, tak pernah sekolah, tak tahu apa-apa mengenai negara dan masyarakat, tak mendapat gaji, tidak akan kawin seumur hidup, tak punya harapan dan karier apa-apa di muka bumi ini — tetapi aku selalu bergembira….”
Pada suatu sore di sebuah sanggar beliau muncul dan bersalaman dengan setiap orang yang ada di situ termasuk saya. Pimpinan sanggar bertanya kepadanya: “Kamu salaman-salaman begitu apa tahu dengan siapa kamu salaman?”
Beliau tertawa nyengir, mendekat dan memegang sebelah tangan saya dan menjawab dengan suara kecil lirih lucu: “Cak Nunnn…!” — Ya Allah, bangganya saya dikenal oleh beliau. Siapa yang ngasih tahu dia tentang saya? Koran? Saya sudah beberapa tahun tidak laku di koran, bahkan koran lokalpun sudah tidak kenal saya. Ah, kuajak beliau naik panggung nanti 17 Agustus malam di Boulevard UGM. Di situ kita akan bercengkerama bersama komunitas Sarkem (“Dolly”), pimpinan paguyuban tukang becak Jogja, mandataris buruh-buruh gendong Pasar Beringharjo, para Dauri (sapaan persahabatan di antara para preman, korak atau gali) dari Buto Mati sampai Buto Kempung. Tentu saja, juga dengan yang kita junjung tinggi para intelektual, dosen-dosen, aktivis mahasiswa, bahkan Pak Rektor. Kalau Ngarsodalem HB X pengayom wong cilik berkenan hadir, tentu teman-teman kita itu akan sangat gembira. Seandainya beliau tak hadir, insyaallah beliau tetap mengayomi, di manapun beliau berada malam itu.
Ya Allah, syukur kepadaMu akhir-akhir ini Engkau pertemukan aku dengan kekasih-kekasih sejati. Yang tidak menyalami tanganku dengan kepentingan. Yang tidak cemburu dan dengki kepadaku. Yang tidak menuduh-nuduh aku atas dasar kabar burung dan obrolan warung. Yang tidak meminta apa-apa dariku, bahkan memberiku ilmu dan hikmah yang tidak aku peroleh dari kaum cerdik pandai, dari para penguasa dan kaum penyebar isyu. Yang tidak mengancamku. Yang tidak mencurigaiku berdasarkan keperluan subyektifnya. Yang tidak menyantet atau menenungku demi melindungi ambisinya. Yang tidak bersaing denganku kecuali dalam mencari ridhallah.
Dulu waktu ulang tahun Kartolo dengan Kiai Kanjeng datang kekasihMu, ibu-ibu setengah baya, pakai kaos oblong dan rok pendek, beteriak-teriak sehingga Satpam dan Polisi akan mengusirnya. Aku loncat turun dari panggung, kurebut ibu-ibu ini dari Polisi, saya gandeng naik panggung, duduk di samping kiri saya, saya bisiki dan alhamdulillah ia bersedia duduk manis di situ sampai acara usai lewat tengah malam.
Di Alun-alun Magetan itu, begitu kami naik panggung, ibu-Ibu tua mendahului berdiri dan berpidato teriak-teriak. Saya datangi, saya nyatakan cinta, saya bimbing duduk di samping saya. Ia patuh manis sampai akhir acara, meskipun berulang kali ia mencubit punggung atau paha saya seakan-akan ia adalah pacar saya yang sebentar lagi saya nikahi.
Berikutnya di Magetan itu datang lelaki muda gagah besar, pakai celana pendek, membawa tali dadung panjang, berjalan sambil menari menyaingi Sardono W. Kusumo, membelah hadirin menuju panggung. Terus ada lagi di belakang hadirin: laki-laki juga, berbaring mengomel dan kayal-kayal seperti bayi — persis seperti nasib rakyat Indonesia.
Dan itu ya Allah, lelaki kurus pucat, pakai hanya celana pendek, langsung masuk ke rumah, bersila, menyembah saya dan berkata: “Lapor! Saya dulu anaknya orang kaya. Saya merantau sekolah di Jogja. Kemudian orang tua saya bangkrut. Saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Untuk bisa makan saya akhirnya jualan darah. Tetapi karena darah yang saya keluarkan tidak sebanding dengan makanan yang masuk, maka akhirnya saya gila. Laporan selesai!” — Kemudian ia nyelonong pergi.
Yang lain datang dan juga langsung masuk rumah. Bahkan tidur di depan pintu tengah. Saya biarkan berjam-jam, sampai akhirnya saya bertanya: “Kok tidur di sini sih, Mas?”. Ia menjawab dengan tegas: “Ini adalah bumi Tuhan, makhluknya bebas tidur di mana saja!”
Menjelang maghrib saya hampiri dia dan saya omong dengan lembut: “Boleh saya menolong Sampeyan untuk saya carikan bumi Tuhan yang lain yang bukan ini?”

Jadwal Maiyah Cak Nun Maret 2014


Berikut jadwal Maiyah Cak Nun Maret 2014.
  • Sinau Nandur Becik Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng | 8 Maret 2014, 19:00 WIB | Alun-alun Trenggalek.
  • Maiyahan bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng | 9 Maret 2014, 20:00 WIB | Dalam Rangka Setengah Abad Pondok Pesantren | Ponpes Al Huda, Boyolali.
  • KENDURI CINTA | 14 Maret 2014, 20:00 WIB | Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
  • BANGBANG WETAN | 15 Maret 2014, 20:00 WIB | Balai Pemuda Surabaya, Jl. Pemuda Surabaya.
  • JUGURAN SYAFAAT | 15 Pebrua 2014, 20:00 | Pendopo Wakil Bupati Banyumas, Depan Tamara Plaza Purwokerto.
  • PADHANGMBULAN | 16 Maret 2014, 19:00 WIB | Menturo Sumobito Jombang.
  • MOCOPAT SYAFAAT | 17 Maret 2014, 20:00 WIB | Kompleks TKIT Alhamdulillah, Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta.
  • GAMBANG SYAFAAT | 25 Maret 2014, 20:00 WIB | Kompleks Masjid Baiturrahman Simpanglima Semarang.


Terima Kasih

Kemarahan Global dan Ngamuk Lokal

sumber gambar
Seorang pakar mengemukakan pendapat dan harapan yang dilandasi oleh budi lembut dan
kemuliaan sosial: “Kenaikan harga BBM jangan membebani rakyat.” Inilah yang mengasyikkan di negeri kita. Meskipun dari jaman purba, sepanjang ilmu dan peradaban dunia hingga kehidupan akherat kelak 4 x 4 pasti = 16, kita masih optimistik dan berkata: “Kita berharap 4 x 4 tidak = 16.”Kalimat berikutnya dari pakar kita itu adalah, “karena pada hakekatnya kenaikan harga BBM akan diikuti oleh harga barang-barang yang lain.”
Dua kalimat itu terkait satu sama lain, bersifat kausalitif, oleh kata ‘karena’ yang menyambungnya. Dua kalimat itu berada dalam satu frame logika. Sehingga kita sangat kagum kepada diri kita sendiri yang sanggup mendamaikan dua fenomena yang dari A sampai Z haqqul yaqin ‘ainul yaqin benar-benar bertentangan.
Seandainya tak ada kata ‘karena’ kita mungkin bersifat ‘berpikir lokal’. Pagi dan di sini berpikir 4 x 4 = 16. Sore nanti di sana kita berpikir: bisa saja tidak = 16. Kita sangat percaya kepada keajaiban, doa, tahayul.
Ketika di sekolah kita diberi logika dan keyakinan bahwa kalau harga minyak naik, maka rakyat tambah beban kesengsaraannya. Sesudah tamat universitas kita memahami suatu kosmos pasca logika bahwa belum tentu kenaikan harga minyak akan membebani rakyat, sehingga logis kalau kita berharap demikian.
Kondisi dan tradisi persepsi seperti ini yang sering memenuhi kepala kita. Indonesia adalah negeri surrealistik. Kita sangat mendamaikan dan mempersatukan apa saja. Kebenaran dan ketidakbenaran bisa berjalan seiring. Yang berbuat tidak adil bisa mempidatokan keadilan. Iblis dikerjasamakan dengan malaikat. Orang punya hutang, karena tak bisa bayar, maka demi mempertahankan hatinya sendiri ia menuduh orang yang menghutangi itu yang terhutang. Orang berbuat baik membantu orang lain, bisa malah kehilangan uang sekaligus kehilangan persaudaraan dengan orang yang dibantunya. Bahkan juga kehilangan kehormatan di wilayah tertentu karena orang beramal bisa tertuduh pencuri, sementara pencuri bisa diumumkan sebagai orang beramal. Dan kita jamin bahwa kita tetap damai-damai saja dengan itu semua.
Itu adalah kasus keputusasaan.
Penduduk dua desa di Kabupaten Jepara kita doakan jangan sampai jadi melaksanakan ‘perang suku’ sesudah tiga orang itu terbunuh. Yang satu desa membela korban, yang lain desa membela martabat kelompok penduduk desanya.
Kita sudah tiba kepada tingkat keputusasaan dan kemarahan global yang sangat serius. Namun kita tidak memiliki efektivitas untuk menyentuh pihak yang sebenarnya berkewajiban atas keputusasaan dan kemarahan kita. Energi kemarahan dua desa itu berasal dari situasi-situasi global yang tidak adil dan mengepung mereka. Namun karena mereka tak mampu berbuat apa-apa atas kekuatan global itu, maka potensialitas psikologis kemarahannya itu mengendap, menggumpal di bawah sadar—kemudian sewaktu-waktu akan muncrat dan yang ditimpa adalah sedulur-sedulurnya sendiri, semua orang tertekan dan menderita.
Selama setahun belakangan ini telah kita alami potensi dan kemarahan global, namun diekspresikan dalam amukan-amukan lokal. Tidak hanya kerusuhan di suatu kota, tapi juga kengawuran-kengawuran dalam pergaulan, perdagangan serta dalam menjalankan berbagai tugas hidup lainnya. Kita juga tak bisa jamin bahwa muncrat-muncratan lokal itu sudah usai.
Salah satu bentuk keputusan itu antara lain menimpa saya: Tidak diizinkan berbicara di Pekalongan dan Kudus karena ada asumsi bahwa saya turut menyulut kerusuhan di tempat itu beberapa waktu yang lalu.[]
Tulisan diambil dari buku Kyai Kocar Kacir (Zaituna, Yogyakarta, 1999, hal. 104-106).

GUS MUS DAN CAK NUN


Sedikit cerita, Gus Mus dan Cak Nun adalah dua kiyai sepuh yang dikeramatkan di kalangan nahdliyyin, setara dengan almarhum Gus Dur. Gus Mus semasa muda adalah santri paling cerdas di pesantrennya. Beliau biasa tidur sewaktu rapat para santri, dan baru dibangunkan kalau ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Seperti lazimnya santri Ponpes Lirboyo, Gus Mus muda senang mempelajari ilmu kanuragan, sehingga rambutnya saja yang sanggup memotong adalah bapaknya sendiri (dan tentu sambil dimarah-marahi).

Cak Nun semasa muda karakternya seperti tokoh wayang Bima; terlalu jujur pada keadaan. Sewaktu masih SD, beliau menendang kaki gurunya sendiri, karena tidak terima temannya yang dimarahi melampaui batas. Sewaktu jadi santri, beliau menghajar seniornya yang kurang ajar, sehingga langsung dikeluarkan.

Baik Gus Mus atau Cak Nun, keduanya sekarang adalah juara di bidangnya masing-masing. Gus Mus kini adalah Ra'is 'Aam PBNU yang artinya pemimpin ribuan ulama dan puluhan juta nahdliyyin. Meski demikian, beliau lebih suka dipanggil "gus" (orang yang belum pantas disebut kiyai) dan digelari budayawan.

Sedangkan untuk Cak Nun, meski beliau tidak punya gelar akademik apapun, beliau adalah rujukan semua profesor dan doktor di Tanah Air. Emha Ainun Nadjib adalah "cendekiawan paling cendekiawan" di Indonesia. Bahkan, saat genting Reformasi 1998, salah satu orang yang dimintai nasehat oleh Pak Harto dan para panglima tentara adalah Cak Nun, karena selain beliau sangat cerdas, beliau adalah manusia tanpa ambisi. 

Cak Nun berbeda dengan para aktivis Reformasi 1998 lainnya, yang kebanyakan sebenarnya hanya dengki. Bisa kita lihat Gus Dur yang tidak pernah korupsi, justru ramai-ramai dikeroyok ratusan pejabat "reformis". Bisa kita lihat juga arah Indonesia sekarang ini yang justru lebih korup daripada Orde Baru.

Kalau Walisongo ada di zaman sekarang, pasti beliau berdua dimasukkan dewan wali nusantara tersebut. 

PENULIS : Doni Febriando



Menangis

sumber gambar
Pernahkan anda menangis? Pasti. Ada artikel dari Cak Nun tentang menangis. Nih artikelnya.
Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah Latif mengajak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat “iyyakana’budu….”. Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai tak berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu, Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan “wa iyyaka nasta’in….”
Banyak di antara jamaah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk ke lantai atau meraung-raung.
“Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar”, berkata Abah Latif seusai wirid bersama, “Mengucapkan kata-kata itu dalam Al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam kehidupan. Harus di situ titik beratnya bukan sebagai aturan, melainkan memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku selain di dalam hakekat itu”.
“Astaghfimllah, astaghfirullah”, geremang turut menangis mulut parasantri.
“Jadi, anak-anakku”, beliau melanjutkan, “apa akar dan pijakan kita dalam rnengucapkan kepada Allah iyyaka na’budu?”
“Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan bimbingan Allah itu sendiri, Abah?” bertanya seorang santri.
“Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan kehidupan”.
“Belum jelas benar bagiku, Abah”.
“Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan kenyataan”. “Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri terhenti ucapannya. Dan Abah Latif meneruskan, “Sekarang ini kita mungkin sudah pantas mengucapkan iyyaka na’budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata kepada-Mu kami menyembah, na’budu”.
“Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita sebagai diri pribadi serta kita sebagai umatan wahidah. Ketika sampai di kalimat na’budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari ‘abdullah, yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyakana’budu dalam shalat mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku, betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?”
“Astaghfirullah, astaghfirullah”, geremang mulut para santri.
“Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan sungguh-sungguh tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka nasta’in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada hakekatnya melawan Allah”.
“Astaghfirullah, astaghfirullah”, gemeremang para santri.
“Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah perbuatan-perbuatanmu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu. Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis. Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup mengantarkan kita kepada-Nya!”