Latest Updates
Showing posts with label Catatan Cak Nun. Show all posts
Showing posts with label Catatan Cak Nun. Show all posts

“Islamic Valentine Day”

cak nun
JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadhan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari “agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entitas, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam. Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan “islamisasi”, “dakwah Islam”, “syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan “Negara Islam Indonesia” — yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakikat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikraha fid-din. Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.
Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir, ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam. Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan “Gosip Islami”, “Lokalisasi Pelacuran Islami”, “Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita Muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai Hari Valentine Islami….

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal….

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: “…hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa….”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan pampasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun…. “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: “Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: “Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah, tapi kalau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram…?”

Allah dan Tetangga

sumber gambar

Meskipun doa itu bebas sensor, tapi musti dikira-kira bukan? Allah menawarkan kepada hamba-hambaNya agar memohon kepadaNya dan Ia berjanji akan mengabulkan.
Jangankan Allah, sedangkan tetangga sebelah — kalau sehari-hari kepadanya kita tidak menunjukkan sikap yang baik dan bertanggung jawab sebagai makhluk sosial — tentu ia malas untuk punya ide mengirimi makanan kepada kita.
Bahkan seandainya kita bersikap tidak tahu diri dan nekad bertamu ke rumahnya mengemukakan kebutuhan: Anda tentu setuju bahwa menyuguhi segelas teh sajapun diam-diam hatinya tidak ikhlas.
Pernahkah kita memperlakukan Allah lebih baik, santun dan bertanggung jawab, dibanding perlakuan kita kepada para tetangga?

sumber : caknun.com

Demokrasi dan ‘Egomania’


Saya menduga keras bahwa secara ilmu bahasa, istilah ‘egomania’ tampaknya tak bisa dibenarkan. Tetapi saya tidak sanggup menjumpai idiom lain untuk mewakili apa yang hendak saya jelaskan.
Ialah suatu kondisi mentalitas di mana ‘kosmos kepribadian’ seseorang hampir seluruhnya diisi oleh hanya dirinya sendiri. ‘Dirinya sendiri’ itu mungkin lebih gamblang kalau saya sebut ego-pribadi, atau bahasa umum menyebutnya ‘interest pribadi’. Idiom yang saya gunakan itu memakai kata ‘mania’ untuk menerangkan kadar kepenuhan interest pribadi itu di setiap sepak terjang seseorang. ‘Stadium tinggi’ egoisme itu membuat orang tersebut tidak memiliki aktivitas sosial, karena setiap perilaku ‘sosial’nya sesungguhnya merupakan aktivitas pribadi. Dengan kata lain, seluruh dunia ini, orang lain, lingkungan, fasilitas-fasilitas kehidupan, hanyalah ‘bagian’ dari egonya.
Anda boleh membayangkan jika —misalnya— negara, partai politik, lembaga-lembaga sosial, rakyat, tanah, hasil bumi, atau lebih eksplisit: institusi Ikadin atau AAI umpamanya hanyalah bagian dari egoisme atau interest pribadi-pribadi.
Sesungguhnya Anda boleh percaya bahwa hal demikian sudah merupakan pemandangan ‘lumrah’ di sekitar kita. ‘Pancasila’, ‘Islam’, ‘Kesatuan dan Persatuan’, ‘Manusia Indonesia Seutuhnya’, ‘Konstitusi’, atau apapun, amat sering diucapkan tidak sebagai kebenaran diri idiom-idiom itu sendiri, melainkan sebagai alat dari proyek interest-interest pribadi. Pancasila seringkali hanyalah berfungsi instrumental, sedang yang substansial adalah ‘egomania’.
Sesungguhnya pula, jika Anda memasuki hakekat realitas dunia perpolitikan — dalam konteks sempitnya maupun konteks luasnya — pandangan mata Anda insyaallah akan bergelimangan egomania. Lantas Anda akan juga merasa tergetar apabila menyaksikan betapa batu cadas egomania itu dikonstruksikan dengan pilar-pilar kekuasaan politik, fundamental-fundamental beton persenjataan, serta dinding-dinding tebal kulturalisme dan ‘birokratisme’.
Jika sebuah komunitas, atau setidaknya sebuah organisasi, mengalami keretakan: Anda silahkan bersangka baik bahwa itulah mekanisme demokrasi. Itulah potret pluralitas di mana perbedaan pendapat dan kehendak boleh dipergunakan.
Akan tetapi jika kemudian Anda menjumpai bahwa itu bukanlah perbedaan pendapat tentang kebenaran, melainkan benturan kepentingan-kepentingan ‘egomania’, persilahkanlah hati nurani Anda menitikkan air mata.
Apalagi jika cara untuk berbeda yang dipakai oleh kaum intelektual, priyayi modern, pengemban prinsip hukum, serta teladan bagi jutaan rakyat yang selalu dituduh ‘buta hukum’ — persis dengan cara para korak atau gali membenturkan perbedaan.
Kita adalah manusia modern yang tak tahu diri. []
Pernah dimuat di Rubrik Wall Pass, Yogya Post, Jumat Pon, 3 Agustus 1990
Dokumentasi Progress


The Politics of Kissing Hands

sumber gambar
Seorang pembaca harian ini dari Bogor, yang tulus hatinya dan tegak pikirannya, yang bersahaja hidupnya maupun sangat serius hajinya — sejak beberapa bulan yang lalu menuntut saya agar  menuliskan lewat rubrik ini suatu masalah yang ia sodorkan kepada saya melalui surat. Masalah yang baginya amat sangat penting, dan alhamdulillah bagi saya juga amat sangat penting.
Lebih alhamdulillah lagi karena Rasulullah Muhammad saw, juga sangat concern terhadap soal ini,  terbukti lewat banyaknya sabda beliau yang khusus mempermasalahkannya. Juga bagi Allah swt sendiri — sepengetahuan saya — soal ini juga termasuk tema primer dan prinsipil yang harus diurus oleh hamba-hambaNya secara murni dan konsekuen.
Mustahil kalau bagi Allah masalah ini tergolong sekunder. Hal mengenai siapa yang dihormati dan siapa yang menghormati, telah ia informasikan acuan dasar akhlaq atau moralitasnya. Allah tidak memerintahkan agar seorang bapak atau ibu merunduk di depan anak-anaknya, melainkan anak-anak yang dengan prinsip birrul walidain wajib menghormati bapak-ibu mereka.
Bukan karena iseng-iseng saja Allah menciptakan adegan di mana ia memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Episode ini tidak bisa diubah misalnya dengan meletakkan iblis sebagai aktor yang disembah sementara Adam mensujudinya. Menurut salah satu logika tafsir, begitu satu  malaikat menolak menyembah Adam, turun derajat atau kualitas malaikat itu — dari “cahaya” menjadi “api”. Ilmu bahasa Alquran kemudian juga berkembang mengacu pada kasus ini, di mana nur (cahaya) selalu dipakai untuk menggambarkan kemuliaan di akhirat, sementara nar (api, neraka) digunakan sebagai simbul dari kehinaan dan kesengsaraan.
Padahal nur dan nar berasal dari komposisi huruf dan rumpun kosakata yang sama.
Iblis ogah menyembah Adam karena alasan feodalisme dan alasan penolakan terhadap regenerasi. Alasan feodalnya, atau bahasa simbolisasi Qur’aniyahnya bernama takabur (gemedhe, sok lebih hebat), karena Iblis merasa dirinya terbuat dari material atau dzat yang lebih tinggi, halus, kualitatif, dan lebih mulia dibanding Adam yang hanya sedikit lebih tinggi dibanding keramik yang sama-sama terbuat dari tanah liat. Padahal Allah sudah menetapkan bahwa Adam ituahsanu taqwin (sebaik-baik ciptaan), karena manusia dianugerahi “cakrawala” (kemungkinan), sementara malaikat atau iblis hanya memiliki “tembok statis” (kepastian) untuk baik atau kepastian untuk buruk. Manusia yang mengolah dirinya dalam kebenaran akan berkualitas mengungguli malaikat, sementara manusia yang memperosokkan diri dalam kesesatan akan berderajat lebih rendah dibanding iblis dan setan.
Sedangkan alasan “penolakan terhadap sunnah regenerasi” — maksudnya adalah ketidaksediaan iblis untuk menerima kepemimpinan manusia atas alam semesta. Bagi iblis manusia itu “anak kemarin sore” kok mau sok memimpin.
Emangnya dia sudah pernah ikut penataran P-4 atau memiliki sertifikat Pekan Kepemimpinan HMI atau PMII! Kok berani-beraninya menjadi khalifah! Apakah manusia sudah punya pengalaman dan jam kerja kepemimpinan, sehingga berani sombong mencalonkan diri atau tenang-tenang saja ketika diputuskan oleh Allah untuk menjadi pemimpin?
Demikianlah, karena hakekat eksistensi manusia adalah “pengembaraan ke cakrawala kemungkinan” — maka ia bisa tiba pada ruang, waktu dan posisi untuk berhak dihormati atau justru wajib  menghormati.
Para nabi, rasul, dan auliya’ sukses memposisikan diri untuk dihormati oleh para malaikat, ditemani oleh makhluk-mahkluk rohaniah itu ke manapun mereka pergi.
Sementara banyak manusia lain, misalnya Gendheng Pamungkas, sengaja atau tak sengaja melakukan mengembaraan untuk memposisikan diri agar justru menghormati iblis. Bahkan kita semua ini sesungguhnya diam-diam memiliki dimensi-dimensi nilai empirik yang membuat kita layak menghormati iblis — berkat suksesnya rekruitmen dan mobilisasi mereka atas kita-kita yang hina ini.
Kaum ulama juga terdiri atas manusia-manusia biasa yang menempuh cakrawala. Mereka bisa tiba di suatu maqam tinggi, suatu istiqamah, suatu tempat berdiri nilai — yang membuat mereka dihormati oleh ummatnya, dihormati oleh umara, didatangi oleh pejabat gubernur, menteri, dan presiden. Namun bisa juga kaum ulama tiba pada suatu derajat yang tidak mengandung kualitas istiqamah apa-apa, tidak memiliki cahaya kemuliaan sebagai golongan yang ‘alim — sehingga justru mereka dalam tatanan struktural keduniaan justru berderajat untuk selalu sowan kepada umara.
Lebih mengasyikkan lagi kerena sangat banyak ulama, keulamaan, dan kelembagaan ulama yang legitimasinya berasal dari umara. Derajat mereka sangat rendah, dan tak berkurang kerendahannya meskipun ditutup-tutupi dengan seribu retorika dunia modern mengenai partnership antara ulama-umara atau dengan dalih-dalih dan alibi-alibi apapun.
Ulama-ulama jenis ini keadaannya sangat mengenaskan hati. Mereka selalu mengikatkan tangannya pada borgol kekuasaan. Membungkukkan punggungnya di hadapan penguasa dunia, bahkan tidak berkeberatan sama sekali untuk mencium punggung tangan sang penguasa. Di zaman terang dahulu kala terdapat banyak cerita mengenai ‘kesombongan’ ulama yang tak mau dipanggil penguasa, karena derajat ulama bukanlah ditimbali atau didhawuhi oleh penguasa, melainkan dihormati dan dibutuhkan oleh penguasa. Di zaman bebendhu sekarang ini, banyak ulama bukan saja akan sangat senang kalau dipanggil menghadap ke istana penguasa, tapi bahkan selalu mencari jalan, lobi dan channel bagaimana bisa menghadap penguasa.
Sowan ulama kepada umara adalah sebuah mainstream bahasa kolaborasi terhadap kekuasaan. Sowan adalah pernyataan kesetiaan politik ulama kepada umara. Ulama yang membungkuk dan mencium tangan penguasa adalah simbolisasi dari tidak hidupnya etos zuhud di kalangan ulama.
Sowan mencerminkan ketergantungan kaum ulama kepada kekuasaan, keamanan politik praktis, dan mungkin juga jatah-jatah ekonomi — meskipun sekedar arisan naik haji atau dibikinkan satu unit gedung pesantren.
Yang paling salah dari episode-episode sejarah semacam ini adalah Anda-anda yang pusing kepala gara-gara tetap saja meyakini bahwa mereka adalah ulama.
Pernah dimuat di Keranjang Sampah Harian Umum Republika.

“Apa tho Nak, Emansipasi itu?”


Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib


Ibu menjaga hasrat baik agar terus
memenuhi desa, berperang melawan
kelapukan akibat tumpahan hujan dari
kekuatan-kekuatan yang mengatasi
desa kita.

Mungkin sekedar ‘kelas’ rukuh, tapi
soalnya ialah kerajinan Ibu untuk
menerobos dan menelusup, di samping
rukuh memang menyediakan rasa tidak
aman bagi kemunafikan. Ibu juga maju
ke Pak Polisi, angkat tangan memotong
pidato Pak Pejabat di mimbar, melayani
segala kesulitan pekerjaan birokratis
yang bisanya ditangani oleh kaum
lelaki, menampung pertengkaran
suami istri-suami istri, membendungi
gejala saling benci di antara siapapun,
mempertanyakan sesuatu kepada Pak-
Pak Pamong, tanpa rasa sungkan atau
pakewuh seperti yang lazim diketahui
sebagai lenderteal pembungkus sikap
sosial orang Jawa. Meskipun toh
frekuensi ketidakberesan yang pada
umumnya tumpah dari atas selalu akan
bisa mengubur usaha-usaha hasrat baik
Ibu.

Pasti ada ribuan orang di negeri ini
yang melakukan seperti yang Ibu
lakukan. Ratusan kawan-kawan
anakmu juga mampu mengerjakan
berbagai hal yang penuh arti. Tapi
lihatlah, apa yang lebih bermutu dari
sepak terjang anakmu ini selain
merengek-rengek?

Banyak hal pada kegiatan kaum wanita di desa kita yang membuat segala
pembicaraan tentang masyarakat
patrimonial menjadi terasa aneh. Tetapi
toh Ibu juga tak bosan-bosan bertanya
kepada anak-anakmu atau kepada
kawan-kawan anak-anakmu yang
datang ke desa:“apa tho Nak
emansipasi wanita itu?”

(Sumber: “IBU, TAMPARLAH MULUT ANAKMU” Sekelumit Catatan Harian. 23.8.1985. foto oleh: Budhi Ipoeng)

Hancurkan Kebinatanganku

sumber gambar
Pada setiap raka’at sembahyang yang tanpa duduk tahiyat, Anda memerlukan tahap ruku’ dari qiyam menuju posisi sujud. Tapi kemudian dari posisisujud ke qiyam, Anda melakukannya langsung tanpa ruku’.
Ini acuan pertama.
Acuan kedua adalah pertemuan Anda dalam shalat dengan beberapa karakter atau sifat Allah Swt. Ini berdasarkan kalimat-kalimat yang Anda ucapkan selama melakukan shalat.
Pertama, tentu saja Allah yang Akbar. Lantas ia sebagai Rabbun. Selanjutnya,Rahman dan Rahim.  Kemudian hakekat kedudukannya sebagai Malik. Dan akhirnya Allah yang ‘Adhim dan A’la.
Kedudukan Allah sebagai Akbar atau Yang Maha Lebih Besar (Ia senantiasa terasa lebih besar, dinamis, tak terhingga, seiring dengan pemuaian kesadaran dan penemuan kita) — kita ucapkan untuk mengawali shalat serta untuk menandai pergantian tahap ke tahap berikutnya dalam shalat.
Artinya, setiap langkah kesadaran dan laku kita letakkan di dalam penghayatan tentang ketidakterhinggaan kebesaran-Nya.
Si Maha Lebih Besar yang dahsyat itu bukannya mengancam dengan kebesaran-Nya, melainkan mengasuh kita melalui fungsi-Nya sebagai Robbun.
Sebagai Yang Maha Mengasuh, Ia bersifat penuh kasih dan penuh sayang.Rahman dan Rahim. Penuh cinta dalam konteks hubungan individual Ia dengan Anda, maupun dalam konteks hubungan yang lebih ‘heterogen’ antara Ia dengan komprehensi kebersamaan kemanusiaan  dan alam semesta.
Tapi jangan lupa Ia adalah Raja Diraja. Ia Malik, hakim agung di hari perhitungan. Ia sekaligus Maha Legislatif, Maha Eksekutif dan Maha Yudikatif.
Dan memang hanya Ia yang berhak penuh merangkum seluruh kedudukan itu hanya dengan diri-Nya yang Sendiri, tanpa kita khawatirkan terjadi ketidakadilan dan ketidakjujuran — yang pada budaya kekuasaan antarmanusia dua faktor itu membuat mereka menciptakan perimbangan sistem trias politica.
Kemudian karakter dan kedudukan-Nya sebagai ‘Adhim dan A’la. Yang Mahabesar (horizontal) dan Mahatinggi (vertikal).
Yang ingin saya kemukakan kepada Anda adalah bahwa kita menyadari-Nya sebagai A’la, Yang Mahatinggi itu, tatkala dalam shalat kita berposisi dan bersikap sebagai binatang. Artinya, kalau kita menyadari kebinatangan kita, yakni dalam keadaan bersujud: badan kita menelungkup bak binatang berkaki empat.
Ketika kita beroperasi setengah binatang, waktu ruku’ bagaikan monyet yang seolah berdiri penuh seperti manusia namun tangannya berposisi sekaligus sebagai kaki — yang kita sadari adalah Allah sebagai ‘Adhim.
Dan ketika kita berdiri (qiyam), Allah yang kita hadapi adalah Allah Rahman,Rahim, dan Malik. Binatang yang ‘ruku’ dan ‘sujud’ tidak memiliki tradisi intelek dan kesadaran ontologis, sehingga tidak terlibat dalam urusan dengan Maliki Yaumiddin. Raja Hakim hari perhitungan. Kadal dan monyet, termasuk juga virus HIV, tidak diadili, tidak masuk sorga atau neraka.
Ketika kita ‘menjadi’ binatang atau menyadari potensi kebinatangan diri saat sujud dan ruku’, kedudukan subyek kita waktu itu adalah aku. Maka kita ucapkansubhana robiiya…. bukan subhana robbina.
Subyek ‘aku’, dengan aksentuasi egoisme, individualisme, egosentrisme, dst lebih dekat ke kebinatangan, dan itu yang harus kita sujudkan ke hadapan Allah Swt.
Adapun ketika kita berdiri, ‘qiyam’, kita menjadi manusia kembali. Dan subyek kita ketika itu bukan lagi ‘aku’ melainkan ‘kami’. Artinya, tanda-tanda eksistensi kemanusiaan adalah pada kadar sosialitasnya, kebersamaannya, integritas kanan-kirinya. Kalau binatang, secara naluriah ia bermasyarakat, tapi oleh Allah mereka tidak dituntut atau ditagih tanggung jawab kemasyarakatannya. Tuntutan dan tagihan itulah yang membedakan antara binatang dan manusia. Itu pulalah yang menghinakan manusia, atau justru memuliakannya.
Mungkin itulah sebabnya maka sesudah kita ber-takbiratul ihram dan berdiri ‘sebagai manusia’, Allah menyuruh kita untuk berlebih dahulu menyadari kebinatangan kita dalam sujud, melalui transisi ruku’. Nanti sesudah sujudnya penuh, silakan langsung berdiri kembali sebagai manusia.
Nanti menjelang Pemilu, pesta demokrasi yang urusannya bergelimang kekuatan dan kekuasaan di antara sesama manusia — ada baiknya semua pihak memperbanyak sujud. Agar supaya kebinatangan diminimalisir.
Dan semoga jangan banyak-banyak yang bersikap sebagaimana iblis, yang menolak sujud, karena merasa lebih tinggi, lebih benar, dan takabbur.
Ah, nanti panjang sekali kalau saya teruskan…. []
Dimuat di Harian Republika, 31 Maret 1996, dan terhimpun dalam buku “Keranjang Sampah” (Emha Ainun Nadjib, Zaituna, 1998).

Anjuran Simbah

sumber gambar

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum wr wb
  1. Setiap pengambilan keputusan, termasuk hal Pemilu, ahsan wa afdhal jika dilakukan sendiri secara mandiri, sebagai al’abd al-baligh (hamba Allah yg dewasa) dan al-khalifah al’aqil (khalifah Allah pengguna akal).
  2. Akan memilih atau tidak, dianjurkan malam sebelum hari-H melakukan tafakur, shalat istikharoh dan shalat tahajjud, memohon petunjuk Allah dan mewiridkan berulang-ulang “Ya Hadi Ya Mubin” semampunya.
  3. Khusus untuk Jamaah Maiyah, ahsan wa afdhal jika malam itu sebelum tidur melaksanakan Doa Tahlukah.
  4. Jika pagi hari-H mengambil keputusan untuk tidak memilih (karena keyakinan atau pandangan yg dipercaya sudah matang) dianjurkan untuk shalat Dhuha 7x (14 roka’at), membaca “Qul in dholaltu fainnama adhillu ‘ala nafsi, wa inihtadaitu fabima yuhiya ilayya Robbi” diakhiri istighfar sebanyak2nya sesanggupnya.
  5. Jika mengambil keputusan untuk memilih, dianjurkan untuk memilih pihak yang paling diharapkan (berdasarkan pengalaman dan sejarah calon pemilih terhadap yg diharapkannya itu), meskipun tidak dimengerti benar karena terbatasnya informasi tentang pihak yg diharapkan itu. Dengan anjuran: sejak dari rumah hingga saat-saat menunggu giliran memilih, maupun ketika akan melaksanakan pilihan di dalam ruangan — mewiridkan (berbisik-bisik atau dengan hati) “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul Makirin”.
  6. Setiap hamba Allah berhak penuh untuk menerima dan melaksanakan anjuran ini, juga berhak penuh untuk menolak dan mengabaikannya. Bagi teman-teman yang tidak mungkin menggunakan anjuran-anjuran ini karena berbeda idiom dan prosedur keagamaannya, mohon diapresiasi dimensi rohaniahnya.
  7. “Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah”.
Wassalam wr wb
S i m b a h
8 April 2014

Memilih Presiden

sumber gambar
Kalau kita makan, kita punya kekuasaan terhadap yang kita makan. Kalau kita memilih makan nasi uduk, itu kita perhitungkan kita membelinya di suatu warung yang kita mampu mengontrolnya. Kalau nasinya ada krikilnya kita protes, dan kita punya pengetahuan apakah nasi ini beracun atau tidak, basi atau tidak. 
Setiap pilihan resikonya adalah harus disertai kesanggupan untuk mengontrol sesuatu yang kita pilih. Di situlah kelemahan kita sebagai bangsa Indonesia. Kita harus memilih pemimpin tanpa sedikit pun ada kesanggupan untuk mengontrol pemimpin yang kita pilih itu.
Bahkan lebih dari itu, bukan hanya tidak sanggup mengontrol, kita bahkan tidak punya pengetahuan yang mencukupi sama sekali mengenai sesuatu yang kita pilih. Kita tidak tahu sebenarnya caleg ini kualitasnya bagaimana, hidupnya bagaimana, istrinya berapa, akhlaknya bagaimana, kita tidak tahu sama sekali. Bahkan tokoh-tokoh terkenal pun rakyat tidak tahu. Bapak ini, Gus itu, orang nggak tahu sebenarnya. Dan kalau pun mereka tahu, mereka tak punya daya kontrol terhadap yang dipilihnya ini, tapi mau tak mau harus memilih. Ini saya kira dilema kita bersama se-Indonesia.
Jadi, sederhana saja sebenarnya. Kalau anakmu naik kapal merantau ke luar pulau, maka selama naik kapal akan ada kemungkinan ada badai, ada kemungkinan dibunuh orang, ada kemungkinan dia bertengkar dengan orang, ada kemungkinan dia di ancam bahaya. Kepada siapakah Engkau menyerahkan anakmu yang Engkau tak bisa mengontrolnya di perjalanan, kepada siapa? Kamu titipkan pak Camat? Kamu titipkan nahkoda? Tidak ada jalan lain kecuali Engkau titipkan pada Allah SWT. Kalau yang kau pilih di pemilu nanti kau tidak tahu siapa dia, kamu tidak bisa mengontrol dia, kenapa tidak kau serahkan pada Tuhan? Jadi serahkan pada Tuhan.
Kalau dalam Islam sederhana. Kalau misal anda tidak memilih, kalau nanti anda berdoa supaya bangsa kita sejahtera nanti Tuhan mengejek juga “Lha kamu nggak milih aja kok minta bangsamu sejahtera”. Tapi kalau memilih bingung juga mau memilih yang mana, sedangkan kalau memilih tidak bisa mengontrol juga. Ya kalau begitu serahkan pada Tuhan.
Kalau dalam Islam caranya jelas. Jadi malamnya shalat dulu kek, kalau nggak sempat ya dalam hati saja berdoa, “Ya Tuhan, gimana mosok saya nggak nyoblos, saya kan warga negara. Saya pilih lah yang kira-kira paling bagus. Cuma kan saya ndak bisa mengontrol dia, Tuhan. Jadi, tolong dong, ini saya pilih satu. Setelah saya pilih dan coblos, saya serahkan kepada-Mu. Kalau dia pemimpin yang baik, panjangkan umurnya. Beri dia kekuatan, dan bantulah urusan-urusannya. Tapi kalau yang aku pilih ini ternyata pengkhianat, penjilat, penindas rakyat dan sama sekali tidak punya cinta kepada kami-kami yang di bawah ini,mbok dilaknat dengan cepat, mbok cepat-cepat diberi tindakan, Tuhan. Terlalu lama lho kami rakyat Indonesia kayak gini terus bingung nggak habis-habis. Terus kepada siapa dong aku mengeluh? Kepada siapa dong rakyat Indonesia mengeluh? Kepada DPR? Wong mereka itu yang justru kami keluhkan kepada-Mu ya Allah. Jadi tolong, Tuhan….”
Bisa juga ditambahi ayat-ayat. Sebelum masuk kotak atau bilik bilang di dalam hati, begitu mau mencoblos baca “Wa makaruu wa makarallah wa-llahu khoirul maakirin”. Kalau mereka makar pada nilai-nilai Allah dan nilai rakyat, maka Allah akan makar pada mereka. Dan yang paling jagoan untuk makar adalah Allah. Kalau mereka khianat pada rakyat, berarti mereka khianat pada Tuhan. Maka Tuhan juga akan makar pada mereka. Wa-llahu khoirul maakirin. Jejak bumi tiga kali, baru dicoblos. Nanti kalau dia khianat, dia sakit kudis.
Dokumentasi Progress